Saturday, December 19, 2009

Opini para blogger tentang Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan Indonesia 2004-Sekarang

"...Kurang apa saya dengan negara ini, Ibu saya sakit menjelang ajal, saya tidak bisa menunggui karena Rupiah sedang gawat..Kalian malah kerjanya seperti ini, GOBLOK SEMUA !!!..."

Artikel kali ini saya cuplik dari tulisan-tulisan para blogger di blog masing-masing. Kumpulan tulisan tentang Sri Mulyani Indrawati ini, Menteri Keuangan di Kabinet Indonesia Bersatu I (2004-2009) yang sekarang menjabat lagi untuk posisi sama di Kabinet Indonesia Bersatu II (2009-2014), tidak bermaksud untuk men"dewa"kan sosok seorang manusia biasa yang masih memiliki emosi dalam menjalani kehidupannya, tapi bermaksud untuk membawa kita setidaknya lebih mengenal jalan pikirnya dalam memimpin perekonomian Indonesia selama lebih dari 5 tahun belakangan. Terkait permasalahan keputusan Bail Out kepada Bank Century, kumpulan artikel ini menjadi worth reading one. Berikut kumpulan artikel-artikelnya:

Hati Kecil Saya untuk Sri Mulyani - Catatan Dahlan Iskan

Hati kecil saya masih berharap mudah-mudahan hasil pemeriksaan investigasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas kasus Bank Century itu tidak seluruhnya benar. Sebab, kalau memang tidak ada yang salah, akibatnya akan sangat dramatis: kita bisa kehilangan menteri keuangan yang sangat kita banggakan. Seorang menteri, Sri Mulyani, yang reputasinya begitu hebat. Baik di dunia internasional maupun dalam mengendalikan keuangan negara. Secara internasional dia terpilih sebagai menteri keuangan terbaik di dunia dua tahun berturut-turut. Di dalam negeri dia dikenal sebagai menteri pertama yang berani mereformasi birokrasi di departemennya. Juga menteri yang sangat ketat mengendalikan anggaran negara. Bahkan, dialah satu-satunya menteri yang berani minta berhenti ketika ada gelagat pemerintah akan membela seorang konglomerat yang dia anggap tidak seharusnya dibela.

Hati kecil saya masih berharap, mudah-mudahan ada yang tiba-tiba mengatakan: kesimpulan BPK itu diperoleh dengan cara kerja yang kurang benar. Maka kita tidak akan kehilangan menteri keuangan yang pandainya bukan main itu. Pandai dalam ilmunya, pandai dalam menjelaskan pikirannya, dan pintar bersilat kata. Saya melihat kecepatan berpikirnya sama dengan kecepatan bicaranya. Kalau lagi melihat cara dia mengemukakan pikiran, seolah-olah otak dan bibirnya berada di tempat yang sama.

Hati kecil saya masih berharap, mudah-mudahan ada orang yang tiba-tiba menemukan data bahwa BPK telah salah ketik. Maka, kita tidak akan kehilangan menteri yang mampu rapat dua hari dua malam nonstop untuk menyelamatkan keuangan negara. Rapat itu tidak boleh berhenti karena lengah sedikit berakibat pada kebangkrutan ekonomi nasional. Rapat itu tentu melelahkan karena angka-angkalah yang akan terus berseliweran. Angka-angka yang rumit: kurs, suku bunga, devisa, likuiditas, rush, neraca perdagangan, stimulus, dan seterusnya. Angak-angka itu saling bertentangan, tapi menteri tidak boleh memilih salah satunya. Dia harus membuat keputusan yang harus memenangkan semua angka yang saling merugikan itu. Padahal, dia baru saja tiba dari Washington, AS, untuk berbicara di forum KTT G-20 yang amat penting itu. Di Washington dia tahu bahayanya ekonomi dunia. Tapi, dia mampu memikirkan keuangan internasional sekaligus keuangan nasional dalam waktu yang sama di belahan dunia yang berbeda. Dia harus menghadiri KTT G-20 di Washington saat itu (kebetulan saya ikut di rombongan situ) saat rupiah tiba-tiba melonjak menjadi Rp 12.000 per dolar AS. Dia harus tampil cool di forum dunia yang Singapura pun tidak boleh ikut di dalamnya itu sambil tegang bagaimana harus mengendalikan rupiah yang sudah membuat warga negara Indonesia panik semuanya.

Dialah menteri yang datang ke Washington hanya untuk mengemukakan pikiran briliannya dan harus langsung kembali ke tanah air pada hari yang sama untuk mencurahkan perhatian pada ekonomi yang hampir bangkrut itu.

Hati kecil saya masih berharap, mudah-mudahan ada orang yang mengatakan bukan dia yang harus bertanggung jawab. Tapi, ada pihak lainlah yang harus mendapat hukuman. Kalau tidak, kita akan kehilangan seorang menteri yang di saat ibu kandungnya, Prof Dr Retno Sriningsih Satmoko, sedang sakit keras menjelang ajalnya, dia tidak bisa menengok sekejap pun. Dia memilih mencurahkan segala pikiran, tenaga, dan emosinya untuk menyelamatkan ekonomi bangsa ini. Dia tidak bisa menjenguk ibu kandungnya yang jaraknya hanya 45 menit penerbangan di Semarang sana. Dia harus mencucurkan air mata untuk dua kesedihan sekaligus: kesedihan karena ibundanya berada di detik-detik akhir hidupnya dan kesedihan melihat negara dalam bibir kehancuran ekonomi. Dua-duanya tidak bisa ditinggal sedetik pun. Rupiah lagi terus bergerak hancur dan detak jatung ibunya juga lagi terus melemah. Dan, Sri Mulyani memilih menunggui rupiah demi nyawa jutaan orang Indonesia.

Maka hati kecil saya masih berharap ada data di kemudian hari bahwa kebijaksanaan itu sendiri tidak salah. Sebab, sebuah kebijaksanaan bisa diperdebatkan salah benarnya. Saya masih berharap yang salah itu dalam pelaksanaan kebijaksanaannya. Yakni, saat mendistribusikan uangnya yang Rp 6,7 triliun itu. Dan saya sangat-sangat yakin dia tidak mendapatkan bagian serupiah pun.

Maka saya sangat bersedih karena sampai hari ini belum ada satu pihak pun yang berhasil mengatakan bahwa hasil pemeriksaan BPK itu salah. Belum ada yang membantah bahwa hasil pemeriksaan BPK itu keliru. Semua masih mengatakan, hasil pemeriksaan BPK itu menunjukkan bahwa dia bersalah dalam mengambil keputusan. Dan hukum harus ditegakkan.

Kisah tentang ibu Sri Mulyani - supergx

Temen2..saya mau cerita ttg Ibu Sri Mulyani...karena banyak orang yg sekarang pro dan kontra ttg dia... Saya bukan pendukung dia..tp saya cuma ada temen yg iparnya kerja di Depkeu. Dia cerita tentang Ibu ini, begini ceritanya :

Ada temen saya yg iparnya itu kerja di Depkeu Bangka-Belitung utk bendahara..(dia kepala nya gan, kurang ngerti eselon brp tp kr2 pangkatnya spt bupati nya Depkeu daerah gitu gan) kira2 1 taun lalu...bulan Desember 2008 waktu masi pelaksanaan sunset policy. Yang rupiah jatuh sampe 12rb itu...

Dia rapat Tahunan seluruh jajaran depkeu pusat dan daerah..dipanggil semua...kira2 ada 400 an orang lah..

Dia marah2 dan bilang gini , "Kalian ini gimana, menghitung potensi sunset policy dan input data aja gak becus..Percuma sekolah tinggi, percuma pak SBY nyuruh saya bantu jadi menteri kalo dirjen2 dan bawahannya goblok kaya kalian. Dirjen pajak sudah ketahuan korupsi, dirjen bea cukai apalagi..kerja ngurus dokumen2 ekspor-impor aja lambat, kalo sampe dirjen bendahara ketahuan korupsi dan kerja lambat..saya pecat dan semua pegawai ga dapat renumerasi taun depan !!!"

Terus dia nangis gan.. sambung lagi kata-kata , " Kurang apa saya dengan negara ini, Ibu saya sakit menjelang ajal, saya tidak bisa menunggui karena Rupiah sedang gawat..Kalian malah kerjanya seperti ini, GOBLOK SEMUA !!!"

Waktu itu Sri mulyani merangkap jabatan gan : Menteri keuangan dan Menko perekonomian soalnya Boediono ditarik jadi Gubernur BI.. Jadi bisa dibayangkan betapa Sibuk, repot dan stress nya dia menangani 2 departemen itu sekaligus.

orang2 ga ada yg berani mbantah dan natap mukanya gan...mungkin kaget juga liat perempuan ini marah2 sampe nangis saking emosinya

ibu ini galak, tapi tegas..karena dia lama di dunia kampus..pas ditarik SBY ke pemerintahan..dia kaget kok ternyata org2 depkeu byk yg gak becus..kerjaan nganggur,nyantai2 dll...

Indonesia sekarang penerimaan utama negara ini yang cuma bisa diandalkan ya dari Pajak.. Kl orang pajak, bea cukai kerjanya gak becus..bisa bangkrut negara ini..apalagi negara ini rakyatnya termasuk "manja" karena banyak subsidi seperti : Subsidi BBM, Minyak tanah (masih ada wlpun uda dikurangi), BLT, raskin, LISTRIK ( 60 Triliun 1 taun), SEKOLAH GRATIS...

Coba kalian bayangkan...sebentar lagi..Indonesia bakal melaksanakan Free trade ASEAN + 3..Kalo itu dilaksanakan..sebagian besar barang impor bakal tidak dikenai bea masuk, pajak dll...Bayangkan..kl bea cukai sudah tidak ada penghasilan..dan Dirjen pajak nya sendiri kurang bisa menguasai bidang sendiri (kebocoran dimana2)..., BUMN juga sudah banyak yang kurang untung (untungnya menyusut karena sahamnya mayoritas dikuasai asing)
Negara ini bisa Bangkrut!!!!!

Utang negara ini sudah terlalu banyak

Semoga kebenaran terungkap...

nb : maaf kalo tulisan saya belepotan...karena saya masih newbie...

Komentator artikel Hati Kecil Saya untuk Sri Mulyani (Dahlan Iskan) - Andika

Meskipun dalam banyak hal saya sering sependapat dengan dahlan Iskan, terutama karena ketajaman pengamatan beliau dalam berbagai hal, tapi dalam hal ini saya berada pada kubu yang berbeda. Pada saat Bu Sri Mulyani masih menjabat kepala Bappenas dan mengeluarkan kebijakan BLT 300 ribuan saja saya sudah menengarai ada ketidak beresan -atau paling tidak kesembronoan- dalam pengambilan keputusan itu.

apalagi dengan kondisi data base sosial kemasyarakatan yang carut marut belum lagi ditambah dengan perilaku aparat yang doyan ngenthit, kebijakan BLT hanya akan menambah “catatan dosa” pemerintah kita.

wee…….lhadalah, lha kok malah bu Sri diangkat jadi Menkeu, langsung beliau menggebrak (baca:membeli kesetiaaan anak buah) dengan cara memberi remunerasi gila-gilaan pada pegawai DEPKEU, sebagai seorang ekonom, seharusnya beliau sadar betul bahwa langkah yang diambil akan membebani APBN, belum lagi efek domino yang ditimbulkan. PNS pada Departemen yang lain, TNI/POLRI segera mempertanyakan apa hebatnya pegawai depkeu? Kalo dibilang untuk profesionalisme tentu saja nonsense, apa tolok ukurnya? yang lain juga profesional kok

catatan Pak dahlan juga menceritakan bahwa seakan-akan beliau adalah seorang dewi yang single handed menyelamatkan bangsa ini. Pak Dahlan yang terhormat, permasalahan bangsa ini bukan cuma ekonomi, selain itu Bu Sri Mulyani juga dibantu dengan tim ahli ekonomi yang mem-back up tugas beliau, kalau bapak ada dalam rombongan yang sama tentu bapak tahu dong….

Kemudian yang terakhir Pak Dahlan, tolong jangan membiaskan masalah, prestasi dan dosa adalah 2 masalah yang berbeda, seorang Sri Mulyani memang punya prestasi yang luar biasa, namun beliau juga punya dosa, kasus BLT dan century misalnya


Komentator artikel Hati Kecil Saya untuk Sri Mulyani (Dahlan Iskan) - barnard leonardo

Saya pribadi kecewa dg keputusan penyelamatan bank century, semenjak akhir tahun 2008 itu. Kecewa karena mulyani yg terakhir meng “go” kan nya. Kecewa karena sy merasa dia harusnya tahu bank itu bank yang “too small to help”. Kecewa karena dia berasal dari sekolah yg sama dg saya waktu di us dulu. Kecewa karena dia, menurut saya, bukan orang finance tapi lebih cenderung ke economist (oleh karena itu dia gagal disini, kalo saja dia mengerti segi etika di keuangan yang super jauh lebih susah dari akuntansi, ekonomi, finance, combined), namun ditaruh sbg menkeu.

Sesuatu yg berat buat sy mengetahui dia harus bertanggung jawab. Tapi perasaan memang harus dikesampingkan. Saya berharap dia bisa lolos dg “negligence” atau paling parah “gross negligence”. Bila kita berharap dia tetap diposisinya, hanya “negligence” yg bisa menyelamatkannya.

Dan bagi orang2 korup yg susah banget elo elo mati… (-sensored-!!!)


Sri Mulyani Indrawati - Mierz Blog Belajar berpikir, belajar menulis

Dua bulan sebelum wisuda..

Pihak BPPK/STAN menyampaikan surat permohonan kehadiran di wisuda kepada Ibu Menkeu

Tiga minggu sebelum wisuda..

Disposisi Ibu Menkeu atas surat permohonan mewisuda turun… dengan catatan: dijadwalkan (artinya masih bisa hadir/tidak hadir)

Akhir September..

Krisis keuangan global mulai di amerika

Dua hari setelah lebaran..

Ibu Menkeu rapat dengan jajaran BI, Menko, depkeu dan departemen terkait persiapan antisipasi krisis keuangan global

Dalam seminggu setelah lebaran…

Rapat marathon plus konferensi press terkait antisipasi krisis keuangan global

Seminggu sebelum wisuda…

Ibu Menkeu berangkat ke Dubai dalam rangka pertemuan ASEAN dengan investor (direncanakan pulang ke Jakarta sehari sebelum wisuda)

Sehari setelah Bursa Efek Indonesia di-suspend…

Ibu Menkeu membatalkan agenda di Dubai dan mempercepat kembali ke Jakarta dan langsung rapat marathon dengan pelaku bursa

Jum’at malam (empat hari sebelum wisuda)…

Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun….di tengah-tengah rapat marathon Ibu Menkeu mendapat kabar duka cita, telah berpulang Ibu kandung Beliau. Malam itu juga berangkat ke semarang

Senin pagi (sehari sebelum wisuda)…

Ibu Menkeu sudah kembali bertugas, rapat marathon di intern Menko/Depkeu maupun di DPR. Pihak BPPK kembali meng-konfirmasi kesediaan Beliau hadir di wisuda. Oleh sekretariat Menkeu belum bisa memberi kepastian, namun masih terjadwal dalam agenda, diminta terus memantau, mengingat kondisi pasar modal saat itu (senin BEI dibuka kembali perdagangannya). Pihak BPPK sudah menyiapkan skenario lain apabila Bu Menkeu berhalangan hadir

Senin sore setelah magrib (sehari sebelum wisuda)…

Informasi dari sekretariat Menkeu, besok pagi ada dua acara: rapat di DPR dan wisuda STAN, namun yang rapat di DPR masih tentative. Persiapan di sekretariat Menkeu mulai menanyakan susunan acara dan pakaian yang harus dikenakan, karena memang dalam undangan wisuda tidak informatif dicantumkan. Panitia menyampaikan bahwa tidak ada keharusan dalam berpakaian. Padahal bagi seorang wanita, memakai baju resmi harus memerlukan persiapan yang lebih banyak dari laki-laki

Senin jam 11 malam (sehari sebelum wisuda)…

Salah seorang ajudan menelepon, bahwa sekarang Ibu Menkeu hampir selesai memimpin rapat…. Acara rapat di DPR besok menjadi siang jam 2. Apabila tidak ada acara yang mendadak (dipanggil Presiden dll.) Ibu Menkeu akan hadir di wisuda. Alhamdulillah… Ditanya jam berapa Ibu Menkeu harus sampai di JCC, dijawab dengan mantap jam 08.30 (sesuai susunan acara di undangan)

Selasa pagi jam 7 (hari H wisuda)…

Panitia wisuda memberitahu bahwa dalam rundown acara mereka, Ibu Menkeu memasuki ruang plenary hall jam 08.00.. oalah.. ya gak bisa dengan tiba-tiba minta Ibu Menkeu mempercepat kedatangannya.. apalagi semalem baru selesai rapatnya menjelang tengah malam.. bisa disemprot 7 hari 7 malam lah….. akhirnya wisudawan lah yang diminta menunggu

Selasa pagi jam 8.15 (hari H wisuda)…

Mobil sedan hitam nopol RI 20 menepi di pintu VVIP JCC, keluar Ibu Menkeu memakai gaun kebaya warna hitam… kelihatan cantik dan anggun.. dengan senyum khasnya menyapa orang-orang yang menyambutnya

Yang patut diteladani adalah sikap profesionalisme Beliau dalam tugasnya. Meskipun masih dalam suasana duka atas kehilangan Ibundanya tapi tetap terlihat tegar. Meskipun dipenuhi pikiran tentang krisis keuangan global, tapi meluangkan waktu untuk acara seremonial. Meskipun dapat juga memakai pakaian kerja sehari-hari (hadir di wisuda sambil lalu ke acara lain), tapi Ibu Menkeu menyempatkan diri “merepotkan” dirinya untuk berpakaian resmi kebaya nasional..

Dalam pidatonya Ibu Menkeu juga sempat berseloroh, bahwa Beliau meskipun bukan alumni STAN tetapi rasa cinta.. rasa sayangnya ke STAN mungkin melebihi rasa cinta Ketua Ikatan Alumninya….

Oh ya, sebagai informasi dalam rangka HUT Keuangan Ibu Menkeu minta kegiatan penanaman pohon dipusatkan di STAN. Rencananya kalo tidak tanggal 1 November (sabtu) atau tanggal 2 November (ahad) kegiatan itu akan dilaksanakan di kampus STAN Bintaro dan Ibu Menkeu akan hadir, tentu dengan catatan apabila tidak ada acara yang lebih penting.



-end-