Monday, May 25, 2009

Dr. Sri Mulyani Indrawati Menteri Koordinator Perekonomian Sekaligus Menteri Keuangan 2004-2009

"Sri Mulyani terpilih sebagai Menteri Keuangan Terbaik di kawasan Asia pada tahun 2006."

Ia primadona, cerdas, jelita dan populer. Analisisnya kritis, lugas dan jernih. Kiprahnya sudah teruji di birokrasi dan lembaga internasional. Kurang dari empat tahun, tiga jabatan menteri disandangnya, setelah sebelumnya menjadi konsultan di USAid dan Executive Director IMF. Dia perempuan dan pemimpin muda berpotensi jadi presiden.

Tiga jabatan menteri yang disandangnya itu baru pertama kali dipimpin perempuan. Mulai dari Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Menteri Keuangan dan Plt Menko Perekonomian Kabinet Indonesia Bersatu.

Presiden menunjuknya sebagai pelaksana tugas Menteri Koordinator Perekonomian menggantikan Boediono yang terpilih menjadi Gubernur Bank Indonesia. Dia merangkap jabatan Menteri Keuangan.

Setahun setelah menjabat Menteri Negara PPN/Kepala Bappenas Kabinet Indonesia Bersatu, mantan Executive Director IMF ini dipercaya menjabat Menteri Keuangan menggantikan Yusuf Anwar dalam reshuffle KIB yang diumumkan 5 Desember dan dilantik 7 Desember 2005.

Sebelumnya, berkali-kali diisukan akan menjadi menteri, ternyata ia malah go international. Namun setelah menjadi konsultan di USAid, kemudian Executive Director IMF, dia pun dipercaya Presiden Yudhoyono menjabat Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Kabinet Indonesia Bersatu.

Mendunia, Sang Ekonom Primadona

Sebelum diangkat menjabat Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Kabinet Indonesia Bersatu, dia hijrah ke Atlanta, Georgia, Amerika Serikat (AS), sebagai konsultan di USAid sejak Agustus 2001. Kemudian, terpilih menjadi Executive Director Dana Moneter Internasional (IMF) mewakili 12 negara Asia Tenggara (South East Asia/SEA Group). Dia perempuan pertama dari Indonesia menduduki posisi itu.

Dr. Sri Mulyani Indrawati atau akrab dipanggil Mbak Ani, adalah ekonom yang cantik, luwes, cerdas dan populer. Sejak paruh kedua dekade 1990-an namanya bisa disejajarkan dengan para selebriti dunia hiburan, akibat seringnya tampil di panggung-panggung seminar atau dikutip di berbagai media massa.

Komentar dan analisisnya kritis, lugas, jernih dan populer. Ia primadona panggung seminar dan talk show di televisi kala itu. Selain sering muncul di seminar-seminar, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE-UI) ini juga sempat aktif menjadi penasihat pemerintah bersama sejumlah ekonom terkemuka lain dalam wadah Dewan Ekonomi Nasional (DEN) pada era pemerintahan Abdurrahman Wahid.

Setelah Megawati menjadi presiden, dia disebut-sebut cukup dekat dengan Megawati dan sempat menyertai Megawati dalam sejumlah acara. Bahkan sempat diisukan akan ditunjuk menduduki salah satu posisi penting di kabinet. Namun, mendadak sejak Agustus 2001, namanya menghilang dari peredaran di dalam negeri.

Apa pasal? Rupanya anak binaan kesayangan Prof Widjojo Nitisastro yang lama memimpin Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi UI ini, sejak tanggal 10 Agustus 2001, sudah hijrah ke Atlanta, Georgia, Amerika Serikat (AS).

Menurut pengakuannya, rencana pindah ke AS sudah lama, dalam rangka kerja sama dengan lembaga bantuan milik Pemerintah AS, USAid dengan program otonomi daerah untuk perkuatan institusi di daerah. Yaitu, memberikan beasiswa S-2 untuk pengajar di universitas di daerah dari Aceh, Kaltim, Sulut, Papua dan Jawa. Programnya di Amerika memang tadinya hanya untuk satu tahun, tetapi diperpanjang dua tahun karena tenaganya masih diperlukan untuk konsultasi pengelolaan program USAid dalam bidang desentralisasi.

Di sana, ibu Dewinta Illinia (13), Adwin Haryo Indrawan (10), dan Luqman Indra Pambudi (6) dari perkawinan dengan Tonny Sumartono ini, banyak memberikan saran dan nasihat mengenai bagaimana mendesain program S-2 untuk perkuatan universitas di daerah maupun program USAid lainnya di Indonesia, terutama di bidang ekonomi. Di samping itu, ia juga mengajar tentang perekonomian Indonesia dan ekonomi makro di Georgia University serta banyak melakukan riset dan menulis buku. Bukunya belum selesai. Topiknya tentang Krisis Ekonomi dan Implikasi pada Pengelolaan Utang Publik.

Seperti halnya di Indonesia, di Amerika ia juga sering mengikuti seminar, tetapi lebih banyak masalah internasional daripada di Indonesia. Sangat banyak yang mengundangnya untuk seminar, seperti dari USINDO, USAid, University of California San Diego, IMF, World Bank Asia Pacific Department, University of Columbia, Negara Belanda, Minister of Planning, dan sebagainya. Lupa, saking banyaknya.

Topiknya pun bervariasi, dari economic up date, desentralisasi dan otonomi, institutional reform, program IMF, governance dan antikorupsi, masalah konflik di Indonesia dan dunia, dan lain-lain.

Tentang filosofi hidup, ia mengatakan hidup hanya sementara. Maka kalau bisa ia hanya ingin melakukan yang terbaik dan memberikan yang terbaik kepada bangsa, negara, agama dan keluarga. Serta ingin menikmati hidup bahagia, damai dengan diri sendiri dan sekitarnya.

Dalam rangka menikmati hidup berguna dan bahagia ini pula, ia getol pula mempelajari psikologi. Ia mengaku sudah sangat lama tertarik pada psikologi. Bahkan dulu ingin masuk fakultas psikologi daripada fakultas ekonomi, karena senang mempelajari tingkah laku dan sifat manusia. Ia senang psikologi karena bisa memahami secara lebih baik sifat dan karakternya sendiri maupun anak-anaknya. Sangat menyenangkan mempelajari bagaimana mereka berkembang dan berubah seiring dengan usia. So excited dan sangat menakjubkan. Sementara, menurutnya, ekonomi banyak bicara tentang tingkah laku pelaku ekonomi, seperti konsumen dan produsen, bahkan juga pemerintah.

Kepribadiannya yang lugas dan cerdas, telah mengantarkannya kepada pergaulan yang sangat luas. Ia disenangi banyak orang di dalam dan luar negeri. Tak heran bila pada awal Oktober 2002 lalu ia terpilih menjadi Executive Director Dana Moneter Internasional (IMF) mewakili 12 negara di Asia Tenggara (South East Asia/SEA Group), menggantikan Dono Iskandar Djojosubroto. Dia menjadi perempuan pertama dari Indonesia menduduki posisi itu.

Posisi itu mungkin tak asing baginya karena sebagai ekonom selama ini ia banyak berurusan dengan IMF, kebijakan IMF, dan dekat dengan orang-orang IMF. Namun, kesan yang mungkin akan sulit dihindari adalah dengan jabatannya yang baru ini pula tampaknya ia menjadi tak leluasa lagi mengkritik keras kebijakan, baik pemerintah maupun IMF.

Sehubungan dengan jabatannya saat itu, penggemar warna hitam, putih, dan pastel, yang juga menjabat komisaris independen di Unilever Indonesia dan Astra Internasional, ini harus pindah dari kawasan Dunwoody, Atlanta bagian utara, yang menjadi tempat tinggalnya setahun terakhir (2001-2002), ke Washington DC -sekitar 1,5 jam dengan pesawat dari Atlanta.

Sebab sejak 1 November 2002, ia berkantor di lantai 13 gedung markas pusat IMF di 19th Street, NW, Washington DC, Maryland, dengan jabatan Executive Director IMF. Baginya, jabatan baru ini adalah tanggung jawab yang harus diemban untuk memenuhi harapan para pemilih dan pendukung, terutama publik.

Ia merupakan perempuan kedua pada posisi itu, setelah seorang perempuan dari Thailand pernah menjabat sebelum Dono Iskandar Djojosubroto. Namun yang jelas, jabatan itu sangat jarang dipegang oleh perempuan. Dari segi usia, ia tergolong paling muda menjabat Executive Director IMF itu. Ia akan menjabat untuk masa dua tahun.

Penunjukannya juga di luar kebiasaan. Selama ini sudah ada semacam kesepakatan antara Bank Indonesia (BI) dan pemerintah bahwa jabatan itu merupakan hak BI. Sedangkan untuk perwakilan di Bank Dunia hak pemerintah. Tapi kali ini, ia justru dicalonkan Menkeu. Rupanya BI berkenan melepaskan haknya untuk mencari orang yang tepat dan paling baik untuk mewakili kepentingan Indonesia di dunia internasional, terutama IMF.

“Pencalonan saya oleh Menkeu yang juga bekas Deputi Gubernur BI tentu sudah melalui konsultasi dan berbagai proses pendahuluan yang mungkin dianggap terbaik untuk kepentingan Indonesia secara keseluruhan dan bukan kepentingan satu-satu institusi, apalagi kepentingan perseorangan,” kata lulusan doctor ekonomi dari University of lllinois Urbana-Champaign, U.S.A (1990–1992) ini.

Ia mengemban tugas mewakili 12 negara anggota SEA Group di IMF. Tugasnya sebagai executive director terkait dengan pengambilan keputusan (to execute). Untuk menentukan berbagai program dan keputusan (action) yang harus diambil IMF. Jadi ia tidak hanya mewakili kepentingan Indonesia. Namun mewakili kepentingan negara-negara anggota di lembaga IMF maupun forum internasional yang relevan. Posisi executive director memberinya kekuasaan penuh untuk bicara dan menyuarakan pemikiran, pertimbangan, maupun keprihatinan negara-negara di kawasan Asia Tenggara, yang kebanyakan masih dalam kondisi berkembang dan miskin.

Dengan demikian ia juga mempunyai kewenangan untuk melihat dan mengevaluasi, baik kondisi perekonomian Indonesia maupun cara operasi dan prioritas program IMF di dunia. Serta mempunyai banyak kesempatan untuk ikut memperbaiki orientasi program IMF di banyak negara maupun mengatasi dan ikut menyelesaikan masalah global, terutama yang berhubungan dengan arsitektur keuangan dunia, governance, serta berbagai perkembangan dan pembangunan institusi yang diperlukan negara yang ingin bergabung dalam sistem global yang penuh risiko dan ketidakpastian.

Dengan jabatan barunya, ia terpaksa meninggalkan pekerjaan mengajar dan berbagai tugas lainnya termasuk di perusahaan swasta sebagai komisaris. Karena posisi executive director di IMF adalah pekerjaan full time dan tidak boleh memiliki keterikatan lain yang bisa menimbulkan konflik kepentingan.

Banyak orang merasa yakin, bahwa ia akan dapat menjalankan tugasnya dengan baik di IMF. Sebab selama ini ia dikenal sangat dekat dengan orang-orang IMF. Namun terlepas dari soal kedekatan secara pribadi itu, menurutnya yang lebih penting adalah kedekatan institusi. Menurutnya, institusi IMF memiliki pendekatan cukup baku dengan pemerintahan yang menjalankan programnya. “Bahwa hubungan pribadi bisa menolong atau membebani program, secara resmi saya rasa ada standar dan acuan yang baku dalam menilai, mengevaluasi dan menentukan sikap IMF terhadap negara penerima bantuan program,” katanya.

Mengenai adanya pandangan negatif yang timbul dan tenggelam di Tanah Air berkaitan dengan keberadaan dan peran IMF di Indonesia, ia mengatakan, “Sebatas pandangan untuk mencerdaskan bangsa kita dan mendidik bangsa kita dalam menentukan sikap, saya rasa wajar dan sehat. Yang tidak sehat kalau pandangan ini berimplikasi pada pandangan dunia internasional terhadap komitmen dan kesungguhan pemerintah dalam menerima dan melakukan reformasi ekonomi.”

Sementara tanggapannya terhadap teori atau evaluasi mantan ekonom Bank Dunia Joseph Stiglitz tentang krisis Asia dan resep IMF yang dinilai memperparah krisis, seperti terjadi di Indonesia melalui penutupan 16 bank tahun 1998, ia menyarankan lebih baik membaca laporan Independent Evaluation Office serta perlu melakukan refleksi balik terhadap keputusan yang diambil saat krisis mulai terjadi tahun 1997-1998.

Menurutnya, kita tidak boleh melupakan seberapa kemungkinan dan keleluasaan yang dihadapi pemerintah maupun IMF dalam mendesain dan menentukan program. Kebijakan kontraktif fiskal yang disarankan IMF pada masa krisis dilandasi pemikiran bahwa pemerintah dalam kondisi memburuk, baik secara politik maupun secara fiskal, sehingga respons yang harus dilakukan adalah melakukan penghematan.

Tentu ini akan berakibat pada kontraksi ekonomi yang mungkin memperburuk baik lapisan berduit maupun kelompok miskin. Dengan pertimbangan ini, diperlukan kebijakan komplementer untuk melindungi kelompok miskin dan paling rapuh agar tidak mengalami pemburukan sepanjang krisis.

Namun, ekspansi fiskal jelas bukan tanpa batas. Maka, kalau dilihat setelah diperbolehkan ekspansi fiskal yang terukur, Indonesia harus kembali mulai mengetatkan fiskalnya untuk memperbaiki kesinambungan kondisi anggaran pemerintah.

2006, Terpilih Sebagai Menteri Keuangan Terbaik Se-Asia

Sri Mulyani terpilih sebagai Menteri Keuangan Terbaik di kawasan Asia pada tahun 2006. Penghargaan ini diberikan oleh harian Emerging Markets pada Senin 18 September 2006.

Kepala Editor Emerging Markets Taimur Ahmad mengatakan, lembaganya setiap tahun mengadakan pemilihan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral terbaik berdasarkan komposisi kawasan benua. Penghargaan ini selalu diberikan bertepatan dengan sidang tahunan IMF dan Bank Dunia.

Menurut Taimur, Sri Mulyani dipilih sebagai Menteri Keuangan Terbaik di Asia berdasarkan kriteria seperti peningkatan ekonomi, pertumbuhan, kepercayaan investor, rating, dan penilaian investor asing. "Sumber penilaian kami bankir, analis, dan investor," kata Taimur kepada Tempo di Singapura, Jumat (15/9/06).

Hal ini, lanjut dia, punya korelasi langsung dengan kondisi perekonomian Indonesia yang menunjukkan perbaikan. Selain Sri Mulyani, Menteri Keuangan Mesir Youssef Boutros Ghali Terbaik untuk kawasan Timur Tengah, Menteri Keuangan Kamerun Polycarpe Abah Abah di Afrika, Menteri Keuangan Rusia Aleksei Kudrin di Eropa, dan Menteri Keuangan Kolombia Alberto Carrasquilla di Amerika Latin. Gubernur Bank Cina, Zhou, terpilih sebagai Gubernur Bank Sentral terbaik di Asia.

2008, Masuk Dalam Daftar 100 Wanita Paling Berpengaruh Di Dunia

Berada di peringkat ke-23 dari 100 wanita paling berpengaruh di dunia versi majalah Forbes, Sri Mulyani mengalahkan nama-nama beken lainnya seperti Hillary Rodham Clinton, Aung San Suu Kyi dan Oprah Winfrey.

Sri Mulyani dianggap cukup berpengaruh karena setelah ditunjuk sebagai Menteri Keuangan, cadangan devisa Indonesia terus meningkat menembus level tertingginya US$ 50 miliar. Kini bahkan cadangan devisa Indonesia sudah menembus US$ 60 miliar.

Forbes juga menilai, investasi asing terus menanjak setelah kepemimpinan Sri Mulyani di Departemen Keuangan. Wanita yang baru saja berulang tahun ke-46 ini juga dinilai gigih memberantas korupsi di birokrasi, menciptakan insentif pajak dan mempermudah UU Investasi.

Peraih posisi People of The Year 2007 bidang Ekonomi versi SINDO ini juga lebih baik dibanding Oprah Winfrey yang berada di peringkat ke-36, serta Ratu Inggris di posisi ke-35. ”Sejak Sri Mulyani terpilih pada 2005 sebagai menteri keuangan, cadangan devisa Indonesia terus meningkat hingga mencapai USD50 miliar dan investasi asing naik drastis. Dia telah berjuang melawan korupsi di pemerintahan, menciptakan insentif pajak,serta menyederhanakan Undang-Undang Investasi,” catat Forbesdalam laporan kemarin.

Gelar dari Forbes ini sekaligus melengkapi berbagai gelar yang diperoleh ibu tiga anak ini sebelumnya. Sri Mulyani pada Maret lalu juga telah dinobatkan sebagai tokoh paling berpengaruh di Asia oleh Singapore Institute of International Affair (SIIA).

Biografi

Pendidikan: 
1981 – 1986, Universitas Indonesia Jakarta, Indonesia Sarjana Ekonomi 
1988 – 1990, University of lllinois Urbana Champaign, U.S.A Master of Science of Policy Economics 
1990 – 1992, University of lllinois Urbana-Champaign, U.S.A Ph. D of Economics 

Spesialisasi Penelitian
Ekonomi Makro 
Ekonomi Keuangan Negara/Publk 
Ekonomi Moneter dan Perbankan 
Ekonomi Tenaga Kerja 

Jabatan Utama
Dewan Ekonomi Nasional (1999-2001) 
Konsultan USAid di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat (2001-2002) 
Executive Director IMF mewakili 12 negara Asia Tenggara (2002-2004) 
Menteri Keuangan Kabinet Indonesia Bersatu (2005-2009) 

Karir: 
-Asisten Pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 1985–1986 
-Pengajar Program S1 dan Program Extension FEUI, S2, S3, Magister Manajemen Universitas Indonesia, 1986 
-Asisten Profesor, University of lllinois at Urbana, Champaign, USA, 1990–1992 
-Staf Ahli Bidang Analisis Kebijaksanaan OTO-BAPPENAS, 1994–1995 
-Research Associate, LPEM FEUI, 1992
-Wakil Kepala Bidang Pendidikan dan Latihan LPEM FEUI, 1993–1995 
-Anggota Kelompok Kerja Mobilitas Penduduk, Asisten IV Menteri Negara Kependudukan, BKKBN, Mei–Desember 1995 
-Anggota Kelompak Kerja Mobilitas Penduduk Menteri Negara Kependudukan (BKKBN), 1995 
-Anggota Kelompok Kerja–GATS Departemen Keuangan RI, 1995 
-Wakil Kepala Bidang Penelitian LPEM FEUI, Mei 1995–Juni 1998 
-Kepala Program Magister Perencanaan Kebijakan Publik-UI, 1996-1999 
-Ketua I Bidang Kebijakan Ekonomi Dalam dan Luar Negeri serta Kebijaksanaan Pembangunan, -PP Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), 1996–2000 
-Anggota Komisi Pembimbing mahasiswa S3 atas nama Sdr. Andrianto Widjaya NRP 95507 Program Doktor (S3) Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian, Institute Pertanian Bogor, Juni 1998 
-Anggota Tim Asistensi Menteri Keuangan Bidang Keuangan dan Moneter, Departemen Keuangan RI, Juni 1998 
-Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM FEUI), Juni 1998 
-Redaktur Ahli Majalah bulanan Manajemen Usahawan Indonesia, Agustus 1998 
-Nara Sumber Sub Tim Perubahan UU Perbankan, Tim Reformasi Hukum – Departemen Kehakiman RI, Agustus 1998 s/d Maret 1999 
-Tim Penyelenggara Konsultan Ahli Badan Pembinaan Hukum Nasional Tahun 1999–2000, 
-Kelompok Kerja Bidang Hukum Bisnis, dan Menteri Kehakiman Republik Indonesia, 15 Mei 1999 
-Dewan Juri Lomba Karya Ilmiah Remaja LIPI-TVRI XXXI, Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial, Kebudayaan dan Kemanusiaan, terhitung 1 April 1999 
-Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, 2004-2005 

Kegiatan Penelitian: 
-Research Demand for Housing, World Bank Project, 1986 
-Kompetisi Perbankan di Jakarta/Indonesia, Bank BNI 1946, 1987 
-Study on Effects on Long-term Overseas Training on Indonesia Participant Trainees 
OTO Bappenas–LPEM FEUI, 1988 
-Penyusunan Study Dampak Ekonomi Sosial Kehutanan Indonesia. Departemen Kehutanan–LPEM FEUI, 1992 
-Survei Pemasaran Pelumas Otomotif Indonesia, Pertamina–LPEM FEUI, 1993 
-The Prospect of Automotive Market and Factors Affecting Consumer Behavior on Purchasing Car PT. Toyota Astra–LPEM FEUI, 1994 
-Inflasi di Indonesia : Fenomena Sisi Penawaran atau Permintaan atau keduanya. Kantor Menko Ekuwasbang–Bulog–LPEM FEUI, 1994 
-Restrukturisasi Anggaran Daerah. Departemen Dalam Negeri–LPEM FEUI, 1995 
-The Evaluation of Degree and non degree training–OTO Bappenas, 1995 
-Fiscal Reform in Indonesia : History and Perspective, 1995 
-Potensi Tabungan Pelajar DKI Jakarta, Bank Indonesia–LPEM FEUI, 1995) 
-Studi Rencana Kerja untuk Pelaksanaan Kegiatan Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Nasional, Departemen Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi–LPEM FEUI, 1996 
-Interregional Input-Output (JICA Stage III), 1996 
-Studi Kesiapan Industri Dalam Negeri Memasuki Era Perdagangan Bebas, Departemen Perindustrian dan Perdagangan, LPEM FEUI, 1997 
-Penyusunan Rancangan Repelita VII. Departemen Perindustrian dan Perdagangan, 1997 
-Indonesia Economic Outlook 1998/1999. Indonesia Forum, 1998 
-Country Economic Review for Indonesia. Asian Development Bank, 1999 

Publikasi: 
-Teori Moneter, Lembaga Penerbitan UI, 1986 
-Measuring the Labour Supply effect of Income Taxation Using a Life Cycle Labour Supply Model : A Case of Indonesia (Disertasi), 1992 
-"Prospek dan Masalah Ekspor Indonesia", Suara Pembaharuan, April 1993 
-The Cohort Approach of a life Cycle Labour Supply, EKI, Desember 1993 
-"Tantangan Ekspor non Migas Indonesia ", DPE 1994 
-"Perkembangan Ekonomi Sumber Daya Manusia – Proceding " Seminar LP3Y – Jogya, Dalam Sumber Daya Manusia dalam Pembangunan, 1995 
-"Dilema Hutang Luar Negeri dan PMA", Warta Ekonomi 26, 1995 
-"Ability to Pay minimum wage and Workers Condition in Indonesia", Seminar World Bank Seminar, April 1995 
-Workers in an integrating World, Discuss Panel World Development Report, 1995 
-Mungkinkah Ekonomi Rakyat? Diskusi Series Bali–Post–Ekonomi Rakyat, 25 November 1995 
-"Tumbuh Tinggi dengan Uang Ketat", Warta Ekonomi, 5 Februari 1996 
-Inpres 2/1996 dan Pembangunan Industri Nasional, Dialog Pembangunan CIDES, 28 Maret 1996"Kijang Tetap Jadi Pilihan", Jawa Pos, 29 Maret 1996 
-Consistent Macroeconomic Development and its Limitation (Sri Mulyani dan Ari Kuncoro), Indonesia Economy Toward The Twenty First Century–IDE, 1996 
-"Pemerintah Versus Pasar", memperingati 70 Tahun, Prof. Widjojo Nitrisastro, Mei 1997 
-"Liberalisasi Challenges", Seminar ASEAN/ISI-Keijai Koho Center, Tokyo, 8 Juli 1997 
-"Economic Profile and Performance of ASEAN Countries" Konfrensi Federation of ASEAN Economic Association, Denpasar–Bali, 24-25 Oktober 1997 
-"Analisa Krisis Nilai Tukar dan Prospek Perekonomian Indonesia ke Depan", Seminar KBRI Singapura, 4 Desember 1997 
-"Small Industry Profiles and Policies", Two Day Seminar USAID-LPEM, Aryaduta Hotel, 17-18 Desember 1997 
-"Kesehatan Bank dan Lingkungan Makro Ekonomi", Dialog Bank Umum Nasional, 16 Januari 1998 
-"Evaluasi Ekonomi 1997 dan Tantangan Ekonomi 1998", Seminar LIPI, 20 Januari 1998 
-"Revisi RAPBN", Gatra, 24 Januari 1998 
-"Krisis Ekonomi Indonesia dan Langkah Reformasi", Orasi Ilmiah Universitas Indonesia, Balairung UI, 7 February 1998 
-"APBN 1998/1999 dimasa Resesi dan Dimensi Revisi RAPBN 1998/1999", Diskusi HUT FKP DPR RI, 12 Februari 1998 
-Forget CBS, Get Serious About Reform, Indonesia Business, April 1998



-end-

(Read more...)

Prof. Andrianto H, n.i. Ketua Dewan Riset Nasional

"Soal hasil karyanya ini bahkan mendapat apresiasi dari Presiden IPhO Prof. Waldemar Gorzkowski."

DUDUK berjam-jam di atas Kereta Api Parahyangan Bandung-Jakarta pergi pulang, bagi beliau adalah saat-saat emas pengembaraan pikirannya. "Melamun itu hobi saya," tutur pakar laser dan serat optik dari Institut Teknologi Bandung itu.

Lamunan demi lamunan membawanya tidak saja dari Bandung ke Jakarta, tetapi ke penemuan-penemuan baru. Itu jugalah yang kemudian membawanya ke ratusan eksperimen yang menghasilkan tujuh karya ilmiah di jurnal internasional di bidang optik, fisika, dan laser.

Peraih gelar master dan doktor optika dari Technische Hogeschool Delft, Belanda, ini memandang hampir mustahil bagi negara seperti Indonesia untuk mengembangkan industri dengan mengikuti jalur yang sudah ditempuh negara-negara maju. "Kita ketinggalan puluhan tahun, dari segi dana dan sumber daya manusia," kata beliau.

Beliau lalu berusaha mencari-cari celah. Kalau kebanyakan insinyur Indonesia kini hanya sebatas membuka katalog untuk mencari barang, beliau menempuh jalan lain di tengah minimnya dana dan fasilitas di perguruan tinggi. Hal-hal itu mungkin terlalu kecil. Pencariannya adalah sesuatu yang terlewat. Sesuatu yang terlalu kecil sehingga tidak disentuh produsen-produsen luar negeri.

Pak Andri, sapaan untuk beliau di kalangan kampus, mengatasi semuanya dengan sederhana: melamun. Ketika tahun 1980 ia pulang dengan gelar doktor dari perguruan teknik terbaik di Belanda, ia harus dihadapkan pada laboratorium kampus yang kosong.

Contoh paling sepele adalah rel untuk meletakkan alat-alat optik yang kedudukannya harus mantap dengan presisi hingga ukuran di bawah satu milimeter. Ternyata solusinya ada di depan mata. "Sampai sekarang pun kusen jendela masih dipakai dan sudah menghasilkan berapa sarjana, master, dan doktor, coba!" kata beliau.

Proses menemukan ide ini tidak selalu mudah. Ketika ia diminta membuat soal eksperimen untuk International Physics Olympiad (IPhO) / Olimpiade Fisika Internasional tahun 2002, dari setahun waktu yang diberikan, baru beberapa bulan terakhir ia menemukan ide. Ide yang khas dari sosok Andrianto karena "sederhana" tetapi cerdas ini sempat juga ngerjain para jago fisika muda selama lima jam.

Soal hasil karyanya ini bahkan mendapat apresiasi dari Presiden IPhO Prof. Waldemar Gorzkowski. Berbeda dari soal-soal eksperimen pada olimpiade fisika tahun-tahun sebelumnya, Pak Andrianto menyajikan soal yang sederhana, tetapi jawabannya sulit.

Soal itu hanya berupa sebuah kotak kubus dengan sisi kurang dari 10 sentimeter. Lubang di dua sisi kubus yang berlawanan ini akan memberikan bayangan pola yang berbeda apabila disorot dengan pointer laser. Disorot dari kanan, akan keluar tiga titik yang membujur. Disorot dari kiri, keluar lima titik yang membentuk segi empat yang memiliki titik pusat. Pertanyaannya, apa isi kotak kecil itu? "Ha-ha-ha..., memang saya tempuh cara yang gila," kata Andrianto sambil tertawa.

RENUNGAN demi renungan adalah bagian dari upaya beliau melihat hal sederhana di depan mata sebagai solusi dari sesuatu yang rumit. Bertahun-tahun bergulat dengan bertumpuk-tumpuk buku, jurnal, dan eksperimen, membawa Andrianto pada kesimpulan: ia membutuhkan kontemplasi.

Tidak heran kalau teman sejawatnya di Departemen Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga pernah menjabat sebagai Rektor ITB, Kusmayanto Kadiman, dengan gamblang mengatakan, Andrianto Handojo adalah satu dari sedikit figur yang patut dijadikan contoh. Sebagai dosen, ia selalu yang memenuhi janjinya di awal kuliah, sistematis, dan fair dalam nilai.

Pak Andrianto pun merupakan tipikal peneliti ideal. Kusmayanto mengatakan, ia mengagumi kemampuan Pak Andrianto dalam mengaplikasikan ilmunya yang supertinggi itu pada hal-hal praktis yang terlihat sederhana.

Yang berkesan bagi Kusmayanto adalah saat Andrianto dengan baik dapat mengomunikasikan kepada masyarakat apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat gerhana matahari tahun 1983. "Andrianto-lah yang ngajarin, kalau melihat gerhana itu, amannya pakai baskom air atau pakai film yang udah enggak kepake," kata Kusmayanto.

MERAIH gelar profesor di ITB tahun 1999, perjalanan seorang Andrianto dimulai ketika ia duduk di bangku SMP. Saat itu, Andrianto remaja berhasil membuat teropong bintang dengan menggunakan lensa kacamata bekas.

Sempat juga beliau mendaftar ke fakultas kedokteran. Namun, dosen jangkung dan selalu terlihat rapi ini lalu mengikuti panggilan jiwa fisikanya. Tahun 1970 lulus dari Departemen Teknik Fisika dalam bidang instrumentasi. Cinta yang konsisten pada laser dan serat optik membawa beliau menjadi natuurkundig ingenieur (n.i.) dan doktor dalam bidang studi optik pada tahun 1975 dan tahun 1979.

Tidak melupakan perannya sebagai ilmuwan, sudah tujuh karya ilmiahnya dimuat di jurnal internasional, terhitung sejak tahun 1977 sampai 2001. Bagi suami dosen Teknik Kimia ITB Linda Aliwarga ini, dimuatnya karya seorang ilmuwan di jurnal internasional adalah bentuk pengakuan internasional. Jurnal ilmiah internasionalah yang meletakkan seorang ilmuwan dalam kancah dunia, bukan semata jago kandang.

Tulisannya bersama JH Sumihar, "Imaging through Scattering Media with the Double Aperture Setup", dimuat di jurnal bergengsi Optics and Laser Technology tahun 2001. Tahun 1998, bersama HJ Frankena, karya ilmiahnya yang berjudul "Testing Aspheric Surfaces: Simple Method Using a Circular Stop" dimuat di jurnal Applied Optics. Sebelumnya, tiga karya Prof. Andrianto dimuat dalam jurnal Applied Optics ini, selain di Journal of Applied Physics dan Optics Communications.

Prof. Andrianto yang dikenal sebagai dosen yang supertepat waktu (selalu memulai kuliah 3 menit sebelum waktunya) dan standar pemberian nilainya yang tinggi oleh para mahasiswanya ini hingga kini masih mengajar laser dan serat optik di Departemen Teknik Fisika ITB. Pernah menjadi Ketua Jurusan Teknik Fisika ITB tahun 1983-1986, Beliau kini menjabat sebagai ketua Dewan Riset Nasional.

KEMBALI ke permenungannya, Andrianto kini tengah mencari jawaban atas jawaban lamunannya selama ini. Siapa atau apa, atau dari mana kiranya ide yang tiba-tiba muncul dalam lamunannya itu.

Pencariannya kini bermuara pada reiki, pendekatan terhadap energi alam. Seorang ahli optik dengan segala presisinya itu menemukan "sesuatu yang bernuansa Ilahi"-demikian Andrianto menyebut reiki. Ia merenungkan bahwa pasti ada sesuatu yang membuat ia menemukan ide itu, atau sesuatu yang memberikan ide dalam lamunan-lamunannya itu. Andrianto menemukan, ketika ia sedang "bersih", dalam arti tidak ada benci, marah, atau emosi gelap lainnya, ide itu lebih cepat keluar. "Pasti ada sesuatu, kan. Itulah yang saya cari, sebuah akses kepada Yang di Atas," kata lelaki kelahiran Malang tahun 1946, yang bersama istrinya dikaruniai satu anak, Vaga, yang kini 19 tahun.

Menurut Andrianto, permenungan tidak banyak diapresiasi di Indonesia. Padahal, pakar fisika ini menegaskan, dari fenomena alam yang paling sederhana pun, kita bisa belajar banyak. "Coba, kenapa ombak dan gelombang selalu datang sejajar garis pantai, padahal di tengah laut, kan, gerakan ombak tidak teratur," katanya.

Curicullum Vitae

Degrees:
S3, Technische Natuurkunde, 1979, Technische Hogeschool Delft
S2, Technische Natuurkunde, 1975, Technische Hogeschool Delft
S1, Departemen Teknik Fisika, 1970, Institut Teknologi Bandung

Employment History:
Institut Teknologi Bandung, Department of Engineering Physics, Bandung, Indonesia.: Assistant Professor, 1972 - present 

Principal Publications (last five years): 
Pengolahan Citra Obyek dari Balik Penghambur dengan Metoda Optik ( Tapis Ruang) dan Metoda Digital ("Or Minimum"), Proceedings ITB Sains dan Teknologi Vol.37 A No.2 2005, hal.171-186, 2005

The Characteristics of Optical Sensor System for Measuring Phytoplankton Concentration, Proceedings of The 8th International Conference on Quality in Research (QIR) , 2005, OL3-OIPD-03, hal. 1-5.

Dioda Laser sebagai Sumber Cahaya pada Sensor Optik untuk Mengukur Konsentrasi Phytoplankton, Jurnal Instrumentasi, Vol. 29, no.1, 2005, hal. 29-37.

Pengaruh Lampu Ruangan terhadap Distribusi Intensitas Pola Frinji Moire Hasil Pengurangan secara Komputerisasi, Prosiding SIPTEKGAN IX-2005, Vol. 2, LAPAN, Oktober 2005, hal. 699-704.

Two Light Sources Optical Sensor for the Measurement of Phytoplankton Concentration, The 2nd Indonesia Japan Joint Scientific Symposium 2006, 6-8 September 2006.

Containing Cyanobacterium Acaryochloris marina by Time- and Wavelength Sinle-Photon Counting Optical Methods in the Life Sciences, Proceedings SPIE, Vol. 6386, 2006


-end-
(Read more...)

Sunday, May 24, 2009

Indonesia di Olimpiade Fisika Internasional

Selama beberapa tahun belakangan, Indonesia tidak pernah absen dari medali emas Olimpiade Fisika Internasional (IPhO) maupun Olimpiade Fisika Asia (APhO). Prestasi-prestasi ini tentunya membuat bukan hanya dunia internasional yang melirik kepada Indonesia, tetapi masyarakat Indonesia sendiri pun memberi perhatian lebih kepada siswa-siswa berprestasi tersebut. Harapan bahwa bangsa ini akan menuju ke masa keemasan bukan lagi hanya mimpi, tetapi bayangannya telah tampak di depan mata. Dengan bibit-bibit unggul ini diharapkan Indonesia kelak dipimpin oleh pribadi-pribadi yang berkualitas baik segi intelektual dan psikis.

SEJARAH

Ide mengundang Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) untuk mengikuti turnamen yang paling berbobot dalam bidang sains ini berasal dari kelompok mahasiswa Fisika tingkat doktoral di College of William & Mary (Virginia Amerika Serikat) pada tahun 1992. Dua calon doktor Fisika (Yohanes Surya dan Agus Ananda) mengambil inisiatif untuk mengundang 5 pelajar terbaik SMA di Indonesia ke Virginia untuk ditraining selama 2 bulan penuh sebelum diterjunkan dalam Olimpiade Fisika Internasional ke-24 (IPhO) yang diadakan di kampus ini. "Koordinator IPhO, Prof. Hans Von Bayer mengijinkan kami untuk melakukannya. Kami juga menerima bantuan dari Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, tempat kuliah kami dahulu untuk mengadakan seleksi. Sekitar tujuh puluh lima pelajar ikut serta dalam tes seleksi ini, kebanyakan dari mereka berasal dari pulau Jawa", ujar Yohanes Surya.


Yayasan TOFI dibentuk pada tanggal 2 Juni 1995 oleh 4 orang pemuda: Yohanes Surya, Agus Ananda, Roy Sembel dan Joko Saputro. Saat ini Yohanes Surya menjabat sebagai koordinator pelaksana, Agus Ananda sebagai wakil dan Roy Sembel sebagai bendahara/humas. Sedangkan Joko Saputro kini menjabat sebagai koordinator Tim Olimpiade Komputer Indonesia. Yayasan ini berkedudukan di Kemang Melati 3 Blok L-11 Kemang Pratama 2 Bekasi 17116. Sebagai mitra pemerintah, Yayasan TOFI didirikan agar pembinaan TOFI dapat dikelola secara profesional sehingga setiap tahun diharapkan TOFI dapat menghasilkan prestasi yang baik dalam Olimpiade Fisika Internasional. Kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan TOFI tidak hanya sebatas pembinaan siswa yang akan bertanding dalam Olimpiade Fisika Internasional saja, tetapi juga meningkatkan kemampuan dan wawasan para guru Fisika di Indonesia.

"Bekerja sama dengan Departemen Pendidikan, kami mengadakan selesi yang lebih menyebar, ke 27 propinsi di Indonesia. Diantara 1400 pelajar yang mengikuti selesi awal pada bulan Oktober. Hasilnya adalah dua puluh empat pelajar yang terpilih untuk menerima buku-buku dan bahan pelajaran untuk tahapan kualifikasi selanjutnya. Untuk kualifikasi, mereka diundang ke Jakarta. Hasil akhir adalah enam pelajar yang kami tempatkan di Puncak sebagai tempat pelatihan. Sepertinya mereka sangat menikmatinya. Cenderung terisolasinya lokasi juga membantu mereka, disamping ada yang menjadikannya untuk saat diet dengan hasil sekitar tiga kilogram. Setiap minggu mereka diberikan ujian selama lima hingga sepuluh jam. Hasil pada tahun 1995 sangat menggembirakan. Tim kita memboyong satu medali perak, satu medali perunggu dan tiga penghargaan dari IPhO di Australia."

PENCARIAN

Sejak mengikuti IPhO 1993 sampai IPhO 2007, perolehan medali TOFI telah berjumlah 13 emas, 12 perak, 23 perunggu, dan 15 honorable mention.

Perolehan nilai pelajar Indonesia di IPhO tidak berbeda jauh dari tahun-tahun sebelumnya tetapi persaingan kian mengetat dengan persiapan tim-tim yang juga semakin membaik. Buktinya, 37 emas terdistribusi kepada 22 negara di IPhO 2007. Batas bawah nilai untuk medali pun terus meningkat. Kalau untuk memperoleh emas di IPhO ke-37 cukup bernilai 37, maka di IPhO ke-38 ini harus bernilai 44. IPhO ke-38 di Isfahan, Iran, diikuti 73 negara dengan jumlah peserta 327 pelajar didampingi 135 leader dengan 86 observer dan17 visitor. Kelima pelajar TOFI merebut 1 emas atas nama Muhammad Firmansyah Kasim dengan nilai 45,7 disusul 3 perak (Rudi Handoko Tanin, Musawwadah Mukhtar, dan Yosua Michael Maranatha) serta 1 perunggu (David Halim).  

IPhO adalah pertandingan fisika antar-pelajar terbaik di dunia yang diselenggarakan sejak tahun 1967. Tiap negara hanya mengirim 5 pelajar terbaik. Peserta peringkat 6% terbaik meraih emas, 12% berikutnya perak, dan 18% berikutnya lagi perunggu.

Program TOFI hasil kerjasama Yayasan TOFI dengan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), didukung Kantor Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra), dan beberapa pihak swasta.

Prof Yohanes—begitu sapaannya—berobsesi membangun Indonesia dengan sains dan teknologi. Caranya, jumlah ilmuwan Indonesia harus mencapai critical mass dan masyarakat Indonesia berbasis sain dan teknologi. Untuk mencapai critical massa, semua alumni TOFI dan siswa-siswa berbakat fisika dikirim ke perguruan tinggi terbaik di luar negeri, sedangkan untuk mencapai masyarakat Indonesia berbasis sain dan teknologi, dikampanyekan pembelajaran fisika metode Gasing (GAmpang, aSyIk, menyenaNGkan) untuk semula kalangan masyarakat, terutama anak-anak.  

Perolehan emas IPhO untuk apa? Yohanes mengatakan, sebagai trigger (pemicu) untuk membangkitkan gairah pelajar Indonesia mempelajari fisika dan menumbuhkan rasa percaya diri mereka. “Sebelumnya, mereka tidak bangga karena Indonesia banyak jeleknya,” tambahnya.

“Setelah Indonesia juara dunia IPhO, anak-anak bangga menjadi orang Indonesia,” ia mengutip ucapan pelajar Indonesia yang mendalami fisika di perguruan tinggi terbaik di luar negeri. “Kalau saya mengirim siswa-siswa kita ke Amerika atau ke negara mana pun, saya tidak lagi merasa minder mereka akan gagal. Saya percaya mereka akan sukses.”

Pria berambut lurus ini memulai pemaparan dengan melontarkan sebuah pertanyaan: “Apakah kita bisa meraih Nobel?” Di hadapan anggota PAH III DPD, Yohanes selaku team leader memutar rekaman video suasana pembagian medali ketika Indonesia merebut 4 emas dan 1 perak IPhO di Singapura, 8 Juli 2006.

Meskipun jumlah medali emas Indonesia di bawah China, yang meraih 5 emas, namun peringkat juara pertama (the champion) berhasil digenggam tim Indonesia karena salah satu dari empat peraih emas Indonesia mencatat nilai tertinggi dalam ujian teori dan eksperimen. IPhO kali ini diikuti pelajar 384 dari 86 negara.

Jonathan Pradana Mailoa (SMA Kristen 1 Penabur Jakarta) meraih nilai tertinggi ujian teori dan eksperimen (29,7 dan 17,10), melebihi nilai pelajar dari China, Yang Suo Long, yang meraih 29,6 (teori) dan 16,45 (eksperimen). Jonathan tak hanya melampaui nilai pelajar China tetapi juga menang mutlak untuk teori dan eksperimen, sehingga berhak mendapat gelar the absolute winner.

Sebuah pencapaian langka untuk international event sekelas IPhO. “Kita sudah juara dunia, kita mengalahkan 85 negara. Kita sudah tunjukkan bahwa kita mampu,” ujarnya. Tapi di balik kemenangan itu, ia masih penasaran apakah hanya anak-anak kota yang mampu mengikuti kompetisi IPhO. “Saya waktu itu penasaran juga, ‘Apakah anak-anak kota yang mampu’. 

Yohanes mengakui, pelaksanaan program talent scouting (TS atau penelusuran bakat) masih belum bagus. Selama 13 tahun membina TOFI, Yohanes mengaku lebih banyak mengandalkan insting untuk mencari anak-anak ber-IQ (Intellectual Quotient) tinggi atau rendah, selain merujuk hasil tes IQ. “Ke depan, kita harus membuat program talent scouting yang lebih bagus lagi.”

Selama ini penjaringan anak-anak berbakat tergantung pemerintah daerah. Tidak hanya fisika, tapi juga bidang lain seperti matematika, biologi, kimia, komputer, dan astronomi. Umumnya, seleksi tingkat lokal dimulai dari kabupaten/kota berlanjut ke jenjang provinsi hingga nasional. Caranya, setiap sekolah mengirim wakil terbaiknya yang dijaring dari seleksi-seleksi tersebut.

Kalau saja pelaksanaan program talent scouting sudah terpola maka Indonesia akan mampu menyaingi China. “Delegasi China selalu ngomong, ‘Kami training 50 anak-anak yang terbaik, merem saja akan dapat 5 emas’. Kita kesulitan, kalau kami training 50 anak-anak, yang terpilih paling banyak 2 atau 3. Kalau semua bagus, kita bisa dapat 50 emas.”

Ia menyadari, anak-anak ber-IQ di atas 150 banyak tersebar di daerah-daerah. Ketika TOFI mengetes 451 anak di Kabupaten Toba Samosir saja, ditemukan enam anak ber-IQ tinggi. “Saya kaget, ternyata di daerah banyak sekali anak-anak yang IQ-nya tinggi. Kok nggak dipoles.”

Keadaan serupa juga ditemukan di Papua. Selagi mencari anak-anak di Papua, ia bertemu Andrey Sakharoon Awoitauw, siswa kelas 2 SMP di Pulau Kepala Burung---sebutan Papua. Andrey tak pintar, apalagi urusan berhitung. Ia kedodoran saat Yohanes menugaskan ia menjumlahkan 1/2 dengan 1/3. Jawabannya 1/5, jelas keliru. “Waktu saya interview pertama kali, pengetahuan matematikanya sangat rendah.”

“Tetapi waktu saya interview lebih lanjut, saya tertarik, (karena) ia mempunyai kemampuan dasar yang baik.” Yohanes menawari Andrey digembleng untuk persiapan Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang matematika. OSN adalah kompetisi para remaja khususnya siswa SMA berusia 12-19 tahun yang berbakat di bidang matematika, fisika, kimia, biologi, dan komputer. Di Universitas Pelita Harapan (UPH), Karawaci, Tangerang, inilah Andrey dan peserta TOFI lainnya digembleng pakar-pakar fisika bergelar master dan doktor.

Andrey bak bermetamorfosis: dari seorang gagap berhitung menjadi sosok brilian matematika. Ia meraih perak OSN di Pekanbaru, 23-29 Agustus 2004. Tapi, Yohanes, sang mentor, tak lantas menyanjungnya habis-habisan. Ia malah mengipas-ngipasi Andrey, “Kamu belum apa-apa. Kamu belum jadi nomor satu.” Yohanes berkali-kali mendengungkan kalimat sakti di telinganya. “Papua masih dianggap sebelah mata di negeri ini. Buktikan bahwa itu keliru. Kamulah yang akan membuktikannya, bukan orang lain. Ayo, raih medali emas.”

Berikutnya, ia menjadi peserta OSN di Jakarta, 4-9 September 2005, yang juga diikuti Ivan Kristanto, siswa SMPK 4 BPK Jakarta. Ivan peraih gelar The Best Overall dan The Best Theory Olimpiade Matematika dan Sains Internasional Tingkat Sekolah Dasar atau International Mathematics and Science Olympiad for Primary School di Jakarta, 14-19 November 2005. “Saya bilang, ‘Kalahkan dia (Ivan). Baru kamu hebat’,” Yohanes melanjutkan ceritanya.

Luar biasa, Andrey berhasil meraih emas matematika mengalahkan Ivan. Di ajang tersebut anak Papua itu membuktikan diri bukan underdog. “Anak Papua, yang menghitung 1/2 ditambah 1/3, jawabannya 1/5, bisa mengalahkan juara dunia dari Jakarta. Artinya apa? Indonesia punya potensi yang luar biasa. Sampai ke ujung-ujung pun banyak anak-anak berbakat.”

Yohanes mengakui kehebatan anak-anak daerah lainnya. Ia mencontohkan I Made Agus Wirawan, siswa SMUN 1 Bangli, Bali, memboyong emas IPhO di Padua, Italia, 19-26 Juli 1999, bersama peraih perak Ferdinand Wawolumaya (SMUK Aloysius Bandung), peraih perunggu Jerry Prawiharjo (SMUK St Albertus Malang) dan Landobasa Lumbantobing (SMU St Angela Bandung), serta Ma’muri (SMUN 1 Cirebon) yang meraih honorable mention (penghargaan khusus, di bawah perunggu).

Terakhir, Muhammad Firmansyah Kasim, siswa kelas 1 SMA Islam Athirah Makassar, mempersembahkan emas untuk Indonesia dari IPhO di Isfahan, Iran, 13-22 Juli 2007, bersama 3 perak yang diperoleh Rudi Handoko Tanin (SMA Sutomo 1 Medan), Musawwadah Mukhtar (SMAN 78 DKI Jakarta), dan Yosua Michael Maranatha (SMAN 3 Yogyakarta), serta 1 perunggu atas nama David Halim (SMA Xaverius Bandar Lampung). Selain emas IPhO, Muhammad Firmansyah Kasim juga beroleh emas APhO dan emas International Junior Science Olympiad.

Misalnya lagi, Jonathan Pradana Mailoa, meraih emas IPhO 2006, the absolute winner dan the best experiment IPhO 2006, serta the best ASIA Student; Pangus Ho, meraih emas IPhO 2006 dan the best experiment APhO 2007.

“Selama kita selalu ikut IPhO, yang menang medali (emas, perak, perunggu) dari Banda Aceh sampai Jayapura,” ulasnya. “Daerah-daerah di Indonesia banyak sekali berpotensi luar biasa.” Kenyataan itu membuktikan anak desa atau anak daerah tidak kalah pintar dibanding anak kota atau anak Jakarta. Jika anak desa atau anak daerah diberi kesempatan dan difasilitasi yang sama untuk belajar maka mereka akan mempunyai kemampuan yang sama, bahkan melebihi anak kota atau anak Jakarta.

“Cuma mereka belum dipoles.” Yohanes meyakini, jika anak-anak ber-IQ di atas 150 yang dijaring dari daerah-daerah dimasukkan ke kelas-kelas super mengikuti pembinaan intensif maka kemungkinan besar mereka akan meraih emas IPhO. TOFI mempersiapkan pelajar mewakili Indonesia di ajang APhO dan IPhO. Dari 30 besar peserta TOFI, dijaring 8-10 pelajar untuk mengikuti pembinaan intensif hingga keberangkatan ke APhO atau IPhO. Selama pembinaan intensif menuju APhO atau IPhO, mereka menjalani pelatihan teori dan pelatihan eksperimen. Di APhO maupun IPhO, yang diujikan ke peserta adalah ujian teori dan ujian eksperimen. Nilai hasil ujian teori ini dijumlahkan dengan nilai hasil ujian eksperimen untuk menentukan peraih medali.

HASIL

Berikut nama-nama yang telah berhasil mengukirkan nama Indonesia menjadi sejajar dengan nama-nama negara lain di dunia internasional di Olimpiade Fisika:

Nama Oki Gunawan
Sekolah SMUN 78, Jakarta
IPhO Perunggu (1993)
S1 Electrical Engineering - Nanyang Technological University, Singapore
S2 Electrical Engineering - Nanyang Technological University, Singapore
S3 Electrical Engineering - Princeton University, AS

Nama Agus Bani Abdillah
Sekolah SMUN 1, Yogyakarta
IPhO Perunggu (1995)
S1 Computer Science - Tokyo Institute of Technology, Jepang
S2 Communications and Integrated Systems

Nama Teguh Budimulia
Sekolah SMUK 1 BPK Penabur, Jakarta
IPhO Medali Perak (1995)
S1 Computer Engineering - Wisconsin University, AS
S2 Computer Engineering - Wisconsin University, AS

Nama Wahyu Setyawan
Sekolah SMUN 1 Surakarta, Jawa Tengah
IPhO Perunggu (1996)
S1 Teknik Elektro - Institut Teknologi Bandung, Indonesia
S2 Jurusan fisika - Florida State University, AS
S3 Computational Materials Science - Duke University, AS

Nama Boy Tanto
Sekolah SMUK Kalam Kudus P.Siantar, Sumatra Utara
IPhO Perunggu (1997)
S1 Physics - National University of Singapore, Singapore

Nama Endra Ennoly
Sekolah SMUN 78, Jakarta
FPhC Medali Emas (1997)
S1 Teknik Informatika - Universitas Bina Nusantara, Indonesia
S2 Teknik Informatika - Universitas Bina Nusantara, Indonesia

Nama Rizal Fajar Hariadi
Sekolah SMU Al-Azhar, Jakarta
FPhC Medali Emas (1997)
S1 Biochemistry- Washington State University, AS
S2 Applied Physics - California Institute of Technology

Nama Tony Tan
Sekolah SMU Sutomo 1, Medan
Propinsi Sumatera Utara
FPhC Medali Perak (1997)
S1 National University of Singapore, Singapore

Nama Wayan Gde Widiartha
Sekolah SMUN 1 Gianyar Bali
IPhO Perunggu (1997)
S1 Nanyang Technological University, Singapore

Nama Ferdinand Wawolumaya
Sekolah SMUK Aloysius, Bandung
IPhO Medali Perak (1999)
S1 Physics - National University of Singapore, Singapore

Nama I Made Agus Wirawan
Sekolah SMUN Bangli, Bali
IPhO Medali Emas (1999)
S1 California Institue of Technology; Fisika - Universitas Pelita Harapan, Indonesia

Nama Jerry Prawiharjo
Sekolah SMUK St.Albertus, Malang
IPhO Perunggu (1999)
S1 Fisika - Institut Teknologi Bandung, Indonesia

Nama Landobasa Lumbantobing
Sekolah SMU St. Angela, Bandung
IPhO Perunggu (1999)
S1 Electrical Engineering - Nanyang Technological University, Singapore

Nama Bahar Riand Passa
Sekolah SMU Taruna Nusantara, Jawa Tengah
IPhO Perunggu (2000)
S1 Electrical and Electronic Engineering -Nanyang Technological University, Singapore
S2 Financial Engineering - NTU & Carnegie Mellon University

Nama Bremana Adhi
Sekolah SMU Taruna Nusantara, Jawa Tengah
IPhO Perunggu (2000)
APhO Perunggu (2000)
S1 Electrical Engineering -Nanyang Technological University, Singapore

Nama Halim Kusumaatmaja
Sekolah SMUK 1, Jakarta
IPhO Perunggu (2000)
APhO Perunggu (2000)
S1 Fisika - Institut Teknologi Bandung, Indonesia (1 semester); Physics - Leicester Univeersity

Nama Yoga Dvipayana
Sekolah SMUN 4 Denpasar, Bali
IPhO Perunggu (2000)
S1 Electrical Engineering - Nanyang Technological University, Singapore

Nama Zainul Abidin
Sekolah SMUN Moncong, Makasar
APhO Medali Perak (2000)
S1 Fisika - Institut Teknologi Bandung, Indonesia
S2 Physics - College of William and Mary,  AS
S3 Physics - College of William and Mary, AS

Nama Abrar Yusra
Sekolah SMUN 2 Modal Bangsa, DI Aceh
APhO Perunggu (2001)
S1 Nanyang Technology University, Singapore

Nama Anthony Iman Hertanto
Sekolah SMU Pelita Harapan, Tangerang
IPhO Perunggu (2001)
S1 Mechanical Engineering - Toronto University, Jepang

Nama Frederick Petrus
Sekolah SMU Sutomo 1, Medan
IPhO Medali Perak (2001)
APhO Medali Perak (2001)
S1 Chemical Engineering - National University of Singapore, Singapore

Nama Imam Makhfudz
Sekolah SMUN 5, Surabaya
IPhO Perunggu (2001)
S1 Nanyang Technological University, Singapore

Nama Rezy Pradipta
Sekolah SMU Taruna Nusantara, Magelang
IPhO Medali Perak (2001)
APhO Medali Emas (2001)
Prestasi Lain The most creative solution of Theoretical Examination APhO 2001 Taiwan
S1 Physics-MIT
S2 Nuclear Science and Engineering-MIT
S3 Nuclear Science and Engineering-MIT

Nama Rizki Muhammad Ridwan
Sekolah SMUN 5, Bandung
IPhO Perunggu (2001)
S1 Nanyang Technological University, Singapore

Nama Agustinus Peter Sahanggamu
Sekolah SMUN 78, Jakarta
IPhO Medali Emas (2002)
APhO Medali Emas (2002)
Prestasi Lain The best Theoretical APhO 2002 Singapura
S1 Physics - Massachusetts Institute of Technology, AS

Nama Christopher S.A. Hendriks
Sekolah SMU Pelita Harapan, Tangerang
IPhO Medali Perak (2002)
APhO Perunggu (2002)
S1 Fisika - Universitas Pelita Harapan, Indonesia

Nama Evelyn Mintarno
Sekolah SMUK 1 Penabur, Jakarta
IPhO Perunggu (2002)
APhO Perunggu (2002)
S1 Stanford University

Nama Fajar Ardian
Sekolah SMU Insan Cendekia, Serpong
IPhO Medali Emas (2002)
APhO Perunggu (2002)
S1 Electrical Engineering - Nanyang Technological University, Singapore
S2 Electrical Engineering - Nanyang Technological University, Singapore
S3 Electrical Engineering - Nanyang Technological University, Singapore

Nama Rangga Perdana Budoyo
Sekolah SMU Taruna Nusantara Magelang
APhO Perunggu (2002)
S1 Wesleyan University, AS

Nama Widagdo Setiawan
Sekolah SMUN 1 Denpasar, Bali
IPhO Medali Emas (2002)
APhO Perunggu (2002)
S1 Aeronautical Engineering - Massachusetts Institute of Technology, AS

Nama Bernard Ricardo
Sekolah SMU Regina Pacis, Bogor
IPhO Medali Perak (2003)
APhO Medali Emas (2003)
S1 Electrical - Nanyang Technological University, Singapore
S2 Applied Physics - National University of Singapore, Singapore

Nama Hani Nurbiantoro Santosa
Sekolah SMU Sedes Sapientiae, Jawa Tengah
APhO Medali Emas (2003)
S1 Fisika - Institut Teknologi Bandung, Indonesia

Nama Rangga Perdana Budoyo
Sekolah SMU Taruna Nusantara, Magelang
IPhO Medali Perak (2003)
APhO Medali Emas (2003)
S1 Wesleyan University, AS

Nama Tri Wiyono Darsowyono
Sekolah SMUN 3 Yogyakarta
IPhO Perunggu (2003)
APhO Medali Emas (2003)
S1 Farmasi - Universitas Gajah Mada, Indonesia

Nama Widagdo Setiawan
Sekolah SMUN 1 Denpasar, Bali
IPhO Medali Emas (2003)
APhO Medali Emas (2003)
S1 Aeronautical Engineering - Massachusetts Institute of Technology, AS

Nama Yudistira Virgus
Sekolah SMU Xaverius 1, Palembang
IPhO Perunggu (2003 & 2004)
APhO Medali Emas (2003)
S1 Fisikia - Institut Teknologi Bandung, Indonesia

Nama Andika Putra
Sekolah SMU 1 Sutomo, Medan
IPhO Perunggu (2004)
S1 Fisika - Institut Teknologi Bandung, Indonesia

Nama Ardiansyah
Sekolah SMU Plus, Riau
IPhO Perunggu (2004)
S1 Teknik Mesin - Institut Teknologi Bandung, Indonesia

Nama Edbert Jarvis Sie
Sekolah SMUK 1 Penabur, Jakarta
IPhO Medali Perak (2004)
Prestasi Lain Peringkat 1 NTU, peraih medali emas Lee Kuan Yew
S1 Physics - Nanyang Technological University, Singapore

Nama Ali Sucipto T
Sekolah SMU Xaverius I, Palembang
IPhO Medali Emas (2005)
APhO Medali Emas (2005)
S1 Physics - Nanyang Technological University, Singapore

Nama Andika Putra
Sekolah SMU 1 Sutomo, Medan
IPhO Medali Emas (2005)
APhO Medali Emas (2005)
S1 Fisika - Institut Teknologi Bandung, Indonesia

Nama Ario Prabowo
Sekolah SMA Taruna Nusantara, Jawa Tengah
IPhO Perunggu (2005)
APhO Perunggu (2005)

Nama Michael Adrian
Sekolah SMA Regina Pacis, Bogor
IPhO Perunggu (2005)
APhO Medali Emas (2005)
S1 Physics - Nanyang Technological University, Singapore

Nama Purnawirman
Sekolah SMUN 1, Pekanbaru
IPhO Perunggu (2005)
APhO Medali Emas (2005)
S1 Physics - Nanyang Technological University, Singapore

Nama Thomas Alfa Edison
Sekolah SMUN 3 Bandung
APhO Perunggu (2005)
S1 Institut Teknologi Bandung, Indonesia

Nama Yongky Utama
Sekolah SMU Dian Harapan, Banten
APhO Medali Perak (2005)
S1 Physics - Hong Kong University of Science and Technology, Hong Kong

Nama Andy Octavian Latief
Sekolah SMAN 1, Pamengkasan
IPhO Medali Emas (2006)
APhO Perunggu (2006)
S1 Fisika - Universitas Indonesia, Indonesia

Nama Irwan Ade Putra
Sekolah SMAN 1, Pekanbaru
IPhO Medali Emas (2006)
APhO Medali Emas (2006)
S1 Physics - Nanyang Technological University, Singapore

Nama Jonathan Pradana Mailoa
Sekolah SMAK 1 BPK Penabur, Jakarta
IPhO Medali Emas (2006)
APhO Medali Perak (2006)
Prestasi Lain Absolute Winner IPhO 2006, Singapura; The best Experiment IPhO 2006, Singapura; The best ASIA Student
S1 Masschusetts Institute of Technology, AS

Nama Muhammad Firmansyah Kasim
Sekolah SMA Islam Athirah, Makassar
IPhO Medali Perak (2006), Medali Emas (2007)
APhO Medali Perunggu (2006), Medali Emas (2007)
Prestasi Lain Medali Emas, International Junior Science Olympiad 2nd; Medali Perunggu, Asian Physics Olympiad 7th; Medali Perak, International Physics Olympiad 37th

Nama Pangus Ho
Sekolah SMAK 3 BPK Penabur, Jakarta
IPhO Medali Emas (2006)
APhO Medali Emas (2006)
Prestasi Lain The best experiment APhO 2007 Kazhakstan
S1 Masschusetts Institute of Technology, AS

NamaRudy Handoko Tanin
Sekolah
SMA Sutomo 1, Medan
Propinsi
Sumatera Utara
IPhO
Medali Perak (2007)
APhO
Medali Perunggu (2006), Medali Emas (2007)

Nama Adam Badra Cahaya
Sekolah SMAN 1, Jember
APhO Perunggu (2007)

Nama Ari Prasetyo
Sekolah SMAN 1, Sukoharjo
APhO Medali Perak (2007)

Nama David Halim
Sekolah SMA Xaverius, Bandar Lampung
IPhO Perunggu (2007)
APhO Medali Perak (2007)
Prestasi Lain Medali Emas, Olimpiade Sains Nasional 2004; Medali Emas, International Junior Science Olympiad 2005

Nama Indra Purnama
Sekolah SMA Taruna Nusantara, Magelang
APhO Perunggu (2007)
S1 Physics - Nanyang Technological University, Singapore

Nama Ivan Gozali
Sekolah SMA Kanisius, Jakarta
APhO Medali Perak (2007)
Prestasi Lain Medali Emas&Absolute Winner OSN Fisika 2005

Nama Musawwadah Mukhtar
Sekolah SMAN 78, Jakarta
IPhO Medali Perak (2007)
APhO Medali Perak (2007)

Nama Ridwan Salim Sanad (Tim B)
Sekolah SMAN 4 Denpasar, Bali
APhO Perunggu (2007)
S1 Physics - Nanyang Technological University, Singapore

Nama Yosua Michael Maranatha
Sekolah SMAN 3, Yogyakarta
IPhO Medali Perak (2007)
APhO Perunggu (2007)
Prestasi Lain Medali emas IJSO 2nd; Absolute Winner IJSO 2nd

Nama Adam Badra Cahaya
Sekolah
SMAN 1, Jember
IPhO
Medali Perak (2008)
APhO
Medali Emas (2008)
Prestasi Lain
Medali Perunggu APhO 8 Shanghai-Cina 2007

Nama Kevin Winata
Sekolah SMAK 1 BPK Penabur, Jakarta
IPhO Medali Emas (2008)
APhO Medali Emas (2008)
Prestasi Lain Medali Emas OSN 2007

Nama Rudy Handoko Tanin
Sekolah SMA Sutomo 1, Medan
IPhO Medali Emas (2008)
APhO Medali Emas (2008)
Prestasi Lain Medali Emas APhO 8 Shanghai - Cina 2007 * Medali Perak IPhO 38 Isfahan - Iran 2007

Nama Thomas Aquinas N. Budi
Sekolah SMAN 78, Jakarta
IPhO Medali Perak (2008)
APhO Medali Perak (2008)
Prestasi Lain Medali Perak OSN 2007

Nama Tyas Kokasih
Sekolah SMA Taruna Nusantara, Magelang
IPhO Perunggu (2008)
APhO Perunggu (2008)

Nama Andri Pradana
Sekolah SMAK 1 BPK Penabur, Jakarta
APhO Medali Perak (2009)
Prestasi Lain Perunggu OSN 2007 Surabaya

Nama Brigitta Septriani
Sekolah SMA Santo Petrus, Pontianak
APhO Perunggu (2009)
Prestasi Lain Perak OSN 2008 Makassar

Nama Dzuhri Radityo Utomo
Sekolah SMAN 1, Yogyakarta
APhO Medali Emas (2009)
Prestasi Lain Emas OSN 2008 Makassar

Nama Fernaldo R W
Sekolah SMAK Gading, Serpong
APhO Medali Perak (2009)
Prestasi Lain Medali emas IJSO 2006 Brazil

Nama Muhammad Shahibul Maromi
Sekolah SMAN 1, Pamekasan
APhO Perunggu (2009)
Prestasi Lain Perunggu OSN 2008 Makassar

Nama Paul Zakharia Fajar Hanakata
Sekolah SMAN 1 Denpasar, Bali
APhO Medali Perak (2009)
Prestasi Lain Emas OSN 2008 Makassar

Nama Sandoko Kosen
Sekolah SMA Sutomo 1, Medan
APhO Medali Perak (2009)
Prestasi Lain Perak OSN 2008 Makassar

Nama Winson Tanputraman
Sekolah SMAK 1 BPK Penabur, Jakarta
APhO Medali Emas (2009)
Prestasi Lain The best Experiment APhO X

*IPhO = International Physics Olympiad; APhO = Asian Physics Olympiad; OSN= Olimpiade Sains Nasional
*Tidak mengikutsertakan nama-nama penerima Honorable Mention


-end-

(Read more...)

Thursday, May 14, 2009

Prof. Nelson Tansu, Ph.D, Profesor Termuda AS Asal Indonesia


Dia asli orang Indonesia yang prestasinya diakui dunia internasional. Pria kelahiran Medan 20 Oktober 1977, ini sudah meraih 11 penghargaan dan memiliki tiga hak paten atas penemuan risetnya. Pada usia 25 tahun ia telah berhasil meraih gelar PhD di University of Wisconsin, Madison, dan kemudian langsung mengajar mahasiswa S-3.

 

Dia menjadi profesor di universitas ternama Amerika, Lehigh University, Pensilvania, mengajar para mahasiswa di tingkat master (S-2), doktor (S-3), bahkan post doctoral Departemen Teknik Elektro dan Komputer. 

 

Lebih dari 84 hasil riset maupun karya tulisnya dipublikasikan di berbagai konferensi dan jurnal ilmiah internasional. Sering diundang menjadi pembicara utama di berbagai seminar, konferensi dan pertemuan intelektual, terutama di Washington DC.

 

Selain itu, dia sering datang ke berbagai kota lain di AS dan luar AS seperti Kanada, sejumlah negara di Eropa, dan Asia. Yang mengagumkan, sudah ada tiga penemuan ilmiahnya yang dipatenkan di AS, yakni bidang semiconductor nanostructure optoelectronics devices dan high power semiconductor lasers. 

 

Di bidang itu, ia mengembangkan teknologi yang mencakup semiconductor lasers, quantum well dan quantum dot lasers, quantum intersubband lasers, InGaAsN quantum well dan quantum dots, type-II quantum well lasers, dan GaN/AlGaN/InGaN semiconductor nanostructure optoelectronic devices. Teknologi tersebut diterapkan dalam aplikasi di bidang optical communication, biochemical sensors, sistem deteksi untuk senjata, dan lainnya.

 

Meski sudah hampir satu dekade ia berada di AS, hingga sekarang ia masih memegang paspor hijau berlambang garuda. Pria ganteng kelahiran Medan, 20 Oktober 1977, ini mengaku mencintai Indonesia. Ia tidak malu mengakui bahwa Indonesia adalah tanah kelahirannya. "Saya sangat cinta tanah kelahiran saya. Dan saya selalu ingin melakukan yang terbaik untuk Indonesia," katanya serius. "Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan merupakan bangsa yang mampu bersaing dengan bangsa-bangsa besar lainnya. Tentu saja jika bangsa kita terus bekerja keras," kata Nelson lagi.

 

Nelson Tansu adalah anak kedua di antara tiga bersaudara buah hati pasangan Iskandar Tansu dan Lily Auw yang berdomisili di Medan, Sumatera Utara. Kedua orang tua Nelson adalah pebisnis percetakan di Medan. Mereka adalah lulusan universitas di Jerman. Abang Nelson, Tony Tansu, adalah master dari Ohio, AS. Begitu juga adiknya, Inge Tansu, adalah lulusan Ohio State University (OSU). Tampak jelas bahwa Nelson memang berasal dari lingkungan keluarga berpendidikan. 

 

Dalam perjalanan hidup dan karirnya, ia mengakui mendapat dukungan yang besar dari keluarga terutama kedua orang tua dan kakeknya. "Mereka menanamkan mengenai pentingnya pendidikan sejak saya masih kecil sekali," ujarnya.

Ketika Nelson masih SD, kedua orang tuanya sering membanding-bandingkan Nelson dengan beberapa sepupunya yang sudah doktor. Perbandingan tersebut sebenarnya kurang pas. Sebab, para sepupu Nelson itu jauh di atas usianya. Ada yang 20 tahun lebih tua. Tapi, Nelson kecil menganggapnya serius dan bertekad keras mengimbangi sekaligus melampauinya. 

 

Waktu akhirnya menjawab imipian Nelson tersebut. "Jadi, terima kasih buat kedua orang tua saya. Saya memang orang yang suka dengan banyak tantangan. Kita jadi terpacu, gitu," ungkapnya. Nelson mengaku, mendiang kakeknya dulu juga ikut memicu semangat serta disiplin belajarnya. "Almarhum kakek saya itu orang yang sangat baik, namun agak keras. Tetapi, karena kerasnya, saya malah menjadi lebih tekun dan berusaha sesempurna mungkin mencapai standar tertinggi dalam melakukan sesuatu," jelasnya.

 

Saat usia SD itu pulalah, Nelson kecil gemar membaca biografi para ilmuwan-fisikawan AS dan Eropa. Selain Albert Einstein yang menjadi pujaannya, nama-nama besar seperti Werner Heisenberg, Richard Feynman, dan Murray Gell-Mann ternyata sudah diakrabinya. "Mereka hebat. Dari bacaan tersebut, saya benar-benar terkejut, tergugah dengan prestasi para fisikawan luar biasa itu. Ada yang usianya muda sekali ketika meraih PhD, jadi profesor, dan ada pula yang berhasil menemukan teori yang luar biasa. Mereka masih muda ketika itu," jelas Nelson penuh kagum.

 

Berkat kegemarannya membaca itu, sejak kecil Nelson sudah mempunyai cita-cita yang besar. "Sejak SD kelas 3 atau kelas 4 di Medan, saya selalu ingin menjadi profesor di universitas di Amerika Serikat. Ini benar-benar saya cita-citakan sejak kecil," ujarnya dengan wajah serius. 

 

Seiring dengan perjalanan waktu, Nelson meniti tangga pendidikan mengejar cita-cita masa kecilnya. Sebelum bertolak ke Amerika, lulusan terbaik SMU Sutomo 1 Medan 1995 ini lolos menjadi finalis Tim Olimpiade Fisika Indonesia. Sukses ini membuat dirinya mendapat tawaran beasiswa dari Bohn's Scholarships untuk kuliah di jurusan matematika terapan, teknik elektro, dan fisika di Universitas Wisconsin-Madison, Amerika Serikat.

 

Masuk kampus September 1995, laki-laki berdarah Tionghoa ini menyandang gelar bachelor of science hanya dalam tempo dua tahun lebih sembilan bulan. Predikatnya pun summa cum laude. Setelah merampungkan S-1-nya di bidang applied mathematics, electrical engineering, and physics pada 1998, ia kebanjiran tawaran beasiswa dari berbagai perguruan tinggi top di Amerika. Meski ada tawaran dari universitas yang peringkatnya lebih tinggi, ia memilih tetap tinggal di Universitas Wisconsin dan meraih gelar doktor di bidang electrical engineering pada Mei 2003.

 

Selama bersekolah di sana, berkat beasiswa yang diperolehnya, orang tua Nelson hanya membiayai hingga tingkat S-1. Selebihnya berkat kerja keras dan prestasi Nelson sendiri. Biaya kuliah tingkat doktor hingga segala keperluan kuliah dan kehidupannya ditanggung lewat beasiswa universitas. "Beasiswa yang saya peroleh sudah lebih dari cukup untuk membiayai semua kuliah dan kebutuhan di universitas," katanya. 

 

Selama menggarap program doktornya, Nelson terus mengukir prestasi. Berbagai penghargaan dikoleksinya, antara lain WARF Graduate University Fellowships dan Graduate Dissertator Travel Funding Award. Bahkan, penelitan doktornya di bidang photonics, optoelectronics, dan semiconductor nanostructires meraih penghargaan tertinggi di departemennya, yakni The 2003 Harold A. Peterson Best ECE Research Paper Award.

Setelah menyandang gelar doktor, Nelson mendapat tawaran menjadi asisten profesor dari berbagai penjuru universitas di Amerika. Peluang menggiurkan ini menjauhkan minatnya untuk kembali ke Tanah Air. Akhirnya, awal 2003, di usianya yang ke-25, ia memilih Lehigh University, dan menyandang gelar asisten profesor di bidang electrical and computer engineering. Di AS, itu merupakan gelar untuk guru besar baru di perguruan tinggi. "Walaupun saya adalah profesor di jurusan electrical and computer engineering, riset saya sebenarnya lebih condong ke arah fisika terapan dan quantum electronics," jelasnya. 

 

Lehigh University merupakan sebuah universitas unggulan di bidang teknik dan fisika di kawasan East Coast, Negeri Paman Sam. Ia berhasil menyisihkan 300 doktor yang kehebatannya tidak diragukan lagi. "Seleksinya ketat sekali, sedangkan posisi yang diperebutkan hanya satu," ujarnya menggambarkan situasi saat itu.

 

Lelaki penggemar buah-buahan dan masakan Padang itu mengaku lega dan beruntung karena dirinya yang terpilih. Menurut Nelson, dari segi gaji dan materi, menjadi profesor di kampus top seperti yang dia alami sekarang sudah cukup lumayan. Berapa sih lumayannya? "Sangat bersainglah. Gaji profesor di universitas private terkemuka di Amerika Serikat adalah sangat kompetitif dibandingkan dengan gaji industri. Jadi, cukup baguslah, he...he...he...," katanya, menyelipkan senyum.

 

Sebagai intelektual muda, dia menjalani kehidupannya dengan tiada hari tanpa membaca, menulis, serta melakukan riset. Tentunya, dia juga menyiapkan materi serta bahan kuliah bagi para mahasiswanya. Kesibukannya itu bertumpu pada tiga hal yakni yakni, learning, teaching, and researching. 

 

Boleh jadi, tak ada waktu sedikit pun yang dilalui Nelson dengan santai. Di sana, 24 jam sehari dilaluinya dengan segala aktivitas ilmiah. Waktu yang tersisa tak lebih dari istirahat tidur 4-5 jam per hari. 

 

Selama mengajar di kampus, karena wajahnya yang masih muda, tak sedikit insan kampus yang menganggapnya sebagai mahasiswa S-1 atau program master. Dia dikira sebagai mahasiswa umumnya. Namun, bagi yang mengenalnya, terutama kalangan universitas atau jurusannya mengajar, begitu bertemu dirinya, mereka selalu menyapanya hormat: Prof Tansu.

 

"Di semester Fall 2003, saya mengajar kelas untuk tingkat PhD tentang physics and applications of photonics crystals. Di semester Spring 2004, sekarang, saya mengajar kelas untuk mahasiswa senior dan master tentang semiconductor device physics. Begitulah," ungkap Nelson menjawab soal kegiatan mengajarnya.

 

Selama September hingga Desember atau semester Fall 2004, dia mengajar kelas untuk tingkat PhD tentang applied quantum mechanics for semiconductor nanotechnology. "Selain mengajar kelas-kelas di universitas, saya membimbing beberapa mahasiswa PhD dan post-doctoral research fellow di Lehigh University ini," jelasnya saat ditanya mengenai kesibukan lainnya di kampus. 

 

Tansu yang Lain

Meski namanya sudah banyak dikenal di seluruh dunia, hanya sedikit yang tahu bahwa guru besar muda ini berasal dari Indonesia. Di sejumlah kesempatan, banyak yang menganggap Nelson adalah orang Turki yang ada hubungan famili dengan mantan PM Turki Tansu Ciller. 

 

Ada pula yang mengira bahwa Nelson adalah orang Asia Timur, tepatnya Jepang atau Tiongkok. Yang lebih seru, beberapa universitas di Jepang malah terang-terangan melamar Nelson dan meminta dia "kembali" mengajar di Jepang. 

 

Seakan-akan Nelson memang orang sana dan pernah mengajar di Negeri Sakura itu. Dilihat dari nama, wajar jika kekeliruan itu terjadi. Begitu juga wajah Nelson yang seperti orang Jepang. Lebih-lebih di Amerika banyak profesor yang keturunan atau berasal dari Asia Timur dan sangat jarang yang berasal dari Indonesia.

 

Nelson pun hanya senyum-senyum atas segala kekeliruan terhadap dirinya. "Biasanya saya langsung mengoreksi. Saya jelaskan ke mereka bahwa saya asli Indonesia. Mereka memang agak terkejut sih karena memang mungkin jarang ada profesor asal aslinya dari Indonesia," jelas Nelson. 

 

Tansu sendiri sesungguhnya bukan marga kalangan Tionghoa. Memang, nenek moyang Nelson dulu Hokkien, dan marganya adalah Tan. Tapi, ketika lahir, Nelson sudah diberi nama belakang "Tansu", sebagaimana ayahnya, Iskandar Tansu. "Saya suka dengan nama Tansu, kok," kata Nelson dengan nada bangga.

 

Rebutan Berbagai Universitas

Berkat prestasi Nelson Tansu yang luar biasa, ia sempat menjadi incaran dan malah "rebutan" kalangan universitas AS dan mancanegara. Ada yang menawari jabatan associate professor yang lebih tinggi daripada yang dia sandang sekarang (assistant professor). Ada pula yang menawari gaji dan fasilitas yang lebih heboh daripada Lehigh University.

 

Tawaran-tawaran menggiurkan itu datang dari AS, Kanada, Jerman, dan Taiwan serta berasal dari kampus-kampus top. 

Semua datang sebelum maupun sesudah Nelson resmi mengajar di Lehigh University. Tapi, segalanya lewat begitu saja. Nelson memilih konsisten, loyal, dan komit dengan universitas di Pennsylvania itu. Tapi, tentu ada pertimbangan khusus yang lain.

 

"Saya memilih ini karena Lehigh memberikan dana research yang sangat signifikan untuk bidang saya, semiconductor nanostructure optoelectronic devices. Lehigh juga memiliki leaderships yang sangat kuat dan ambisinya tinggi menaikkan reputasinya dengan memiliki para profesor paling berpotensi dan ternama untuk melakukan riset berkelas dunia," papar pengagum John Bardeen, fisikawan pemenang Nobel itu. 

 

Nelson mengaku memilih universitas luar negeri sebagai wadah kiprah ilmiahnya karena semata-mata iklim keilmuan di sana sangat kondusif. Di sana ia bisa memanfaatkan fasilitas laboratorium yang lengkap, mengakses informasi dari perangkat berteknologi canggih, dan melahap buku-buku terbaru di perpustakaan. 

 

Peran dan keberadaan para ilmuwan sangat dihargai dan dihormati di sana. Selain itu, fasilitas riset yang sangat ia butuhkan juga menunjang komitmennya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bermanfaat bagi negara dan dunia. 

 

Walaupun dikelilingi oleh berbagai fasilitas yang lengkap, hidup di perantauan membuatnya harus memendam rindu pada keluarga, teman, dan makanan khas Indonesia. Namun, kerinduan itu terobati dengan peluang berkarya yang lebih besar dan gaji yang cukup di universitas swasta ternama seperti tempatnya bekerja. 

 

Ia memang tak mau menyebut angkanya. Tapi, sebagai gambaran, kata Nelson, rata-rata US$ 10.000 per bulan plus fasilitas kesehatan. "Jumlah ini cukup kompetitif dengan gaji yang ditawarkan dunia industri," kata ilmuwan muda yang rajin memberi ceramah di berbagai universitas di Amerika dan Eropa ini. 

 

Meski memilih menetap di Amerika, ahli semikonduktor untuk serat optik ini mengaku akan mempertimbangkan dengan serius kalau pemerintah sungguh-sungguh membutuhkannya.

Ditanya soal pacar, Nelson tersipu-sipu dan mengaku belum punya. Padahal, secara fisik, dengan tinggi 173 cm, berat 67 kg, dan wajah yang cakep khas Asia, Nelson mestinya mudah menggaet (atau malah digaet) cewek Amerika. 

 

"Ha... ha... ha.... Pertama, saya ini nggak ganteng ya. Tapi, begini, mungkin karena memang belum ketemu yang cocok dan jodoh saja. Saya sih, kalau bisa, ya dengan orang Indonesia-lah. Saya sih nggak melihat orang berdasarkan kriteria macem-macem. Yang penting orangnya baik, pintar, bermoral, pengertian, dan mendukung," paparnya panjang lebar sambil tersipu malu.

Dr. Siti Fadilah Supari (Menteri Kesehatan Indonesia 2004-2009)

Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari (59) bikin gerah World Health Organization (WHO) dan Pemerintah Amerika Serikat (AS). Fadilah berhasil menguak konspirasi AS dan badan kesehatan dunia itu dalam mengembangkan senjata biologi dari virus flu burung, Avian influenza (H5N1). Setelah virus itu menyebar dan menghantui dunia, perusahaan-perusaha an dari negara maju memproduksi vaksin lalu dijual ke pasaran dengan harga mahal di negara berkembang, termasuk Indonesia . Fadilah menuangkannya dalam bukunya berjudul Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung. Selain dalam edisi Bahasa Indonesia, Siti juga meluncurkan buku yang sama dalam versi Bahasa Inggris dengan judul It's Time for the World to Change.

Konspirasi tersebut, kata Fadilah, dilakukan negara adikuasa dengan cara mencari kesempatan dalam kesempitan pada penyebaran virus flu burung. "Saya mengira mereka mencari keuntungan dari penyebaran flu burung dengan menjual vaksin ke negara kita," ujar Fadilah kepada Persda Network di Jakarta , Kamis (21/2). Situs berita Australia , The Age, mengutip buku Fadilah dengan mengatakan, Pemerintah AS dan WHO berkonpirasi mengembangkan senjata biologi dari penyebaran virus avian H5N1 atau flu burung dengan memproduksi senjata biologi. Karena itu pula, bukunya dalam versi bahasa Inggris menuai protes dari petinggi WHO. "Kegerahan itu saya tidak tanggapi. Kalau mereka gerah, monggo mawon. Betul apa nggak, mari kita buktikan. Kita bukan saja dibikin gerah, tetapi juga kelaparan dan kemiskinan. Negara-negara maju menidas kita, lewat WTO, lewat Freeport , dan lain-lain. Coba kalau tidak ada kita sudah kaya," ujarnya.

Fadilah mengatakan, edisi perdana bukunya dicetak masing-masing 1.000eksemplar untuk cetakan bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Total sebanyak 2.000 buku. "Saat ini banyak yang meminta jadi dalam waktu dekat saya akan mencetak cetakan kedua dalam jumlah besar. Kalau cetakan pertama dicetak penerbitan kecil, tapi untuk rencana ini, saya sedang mencari bicarakan dengan penerbitan besar," katanya. Selain mencetak ulang bukunya, perempuan kelahiran Solo, 6 November 1950, mengatakan telah menyiapkan buku jilid kedua.
"Saya sedang menulis jilid kedua. Di dalam buku itu akan saya beberkan semua bagaimana pengalaman saya. Bagaimana saya mengirimkan 58 virus, tetapi saya dikirimkan virus yang sudah berubah dalam bentuk kelontongan. Virus yang saya kirimkan dari Indonesia diubah-ubah Pemerintahan George Bush," ujar menteri kesehatan pertama Indonesia dari kalangan perempuan ini.

Siti enggan berkomentar tentang permintaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang memintanya menarik buku dari peredaran. "Bukunya sudah habis. Yang versi bahasa Indonesia , sebagian, sekitar 500 buku saya bagi-bagikan gratis, sebagian lagi dijual ditoko buku. Yang bahasa Inggris dijual," katanya sembari mengatakan, tidak mungkin lagi menarik buku dari peredaran. [Pemerintah AS dikabarkan menjanjikan imbalan peralatan militer berupa senjata berat atau tank jika Pemerintah RI bersedia menarik buku setebal 182 halaman itu. red] Apapun komentar pemerintah AS dan WHO, Fadilah sudah membikin sejarah dunia.

Gara-gara protesnya terhadap perlakuan diskriminatif soal flu burung, AS dan WHO sampai-sampai mengubah kebijakan fundamentalnya yang sudah dipakai selama 50 tahun. Perlawanan Fadilah dimulai sejak korban tewas flu burung mulai terjadi di Indonesia pada 2005. Majalah The Economist London menempatkan Fadilah sebagai tokoh pendobrak yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak flu burung. "Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata yang terbukti lebih berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam menanggulangi encaman virus flu burung, yaitu transparansi, " tulis The Economist. The Economist, seperti ditulis Asro Kamal Rokan di Republika, edisi pekan lalu, mengurai, Fadilah mulai curiga saat Indonesia juga terkena endemik flu burung 2005 silam.
Ia kelabakan. Obat tamiflu harus ada. Namun aneh, obat tersebut justru diborong negara-negara kaya yang tak terkena kasus flu burung. Di tengah upayanya mencari obat flu burung, dengan alasan penentuan diagnosis, WHO melalui WHO Collaborating Center (WHO CC) di Hongkong memerintahkannya untuk menyerahkan sampel spesimen.

Mulanya, perintah itu diikuti Fadilah. Namun, ia juga meminta laboratorium litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya ternyata sama. Tapi, mengapa WHO CC meminta sampel dikirim ke Hongkong? Fadilah merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban flu burung di Vietnam . Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil dan dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan kemudian dibuat bibit virus. Dari bibit virus inilah dibuat vaksin. Dari sinilah, ia menemukan fakta, pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusaha an besar dari negara maju, negara kaya, yang tak terkena flu burung. Mereka mengambilnya dari Vietnam , negara korban, kemudian menjualnya ke seluruh dunia tanpa izin. Tanpa kompensasi. Fadilah marah. Ia merasa kedaulatan, harga diri, hak, dan martabat negara-negara tak mampu telah dipermainkan atas dalih Global Influenza Surveilance Network (GISN) WHO. Badan ini sangat berkuasa dan telah menjalani praktik selama 50 tahun. Mereka telah memerintahkan lebih dari 110 negara untuk mengirim spesimen virus flu ke GISN tanpa bisa menolak.

Virus itu menjadi milik mereka, dan mereka berhak memprosesnya menjadi vaksin. Di saat keraguan atas WHO, Fadilah kembali menemukan fakta bahwa para ilmuwan tidak dapat mengakses data sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO CC. Data itu, uniknya, disimpan di Los Alamos National Laboratoty di New Mexico , AS. Di sini, dari 15 grup peneliti hanya ada empat orang dari WHO, selebihnya tak diketahui. Los Alamos ternyata berada di bawah Kementerian Energi AS.

Di lab inilah duhulu dirancang bom atom Hiroshima . Lalu untuk apa data itu, untuk vaksin atau senjata kimia? Fadilah tak membiarkan situasi ini. Ia minta WHO membuka data itu. Data DNA virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya dikuasai kelompok tertentu. Ia berusaha keras. Dan, berhasil. Pada 8 Agustus 2006, WHO mengirim data itu. Ilmuwan dunia yang selama ini gagal mendobrak ketertutupan Los Alamos , memujinya. Majalah The Economist menyebut peristiwa ini sebagai revolusi bagi transparansi. Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah terus mengejar WHO CC agar mengembalikan 58 virus asal Indonesia , yang konon telah ditempatkan di Bio Health Security, lembaga penelitian senjata biologi Pentagon.

Ini jelas tak mudah. Tapi, ia terus berjuang hingga tercipta pertukaran virus yang adil,
transparan, dan setara. Ia juga terus melawan dengan cara tidak lagi mau mengirim spesimen virus yang diminta WHO, selama mekanisme itu mengikuti GISN, yang imperialistik dan membahayakan dunia. Dan, perlawanan itu tidak sia-sia. Meski Fadilah dikecam WHO dan dianggap menghambat penelitian, namun pada akhirnya dalam sidang Pertemuan Kesehatan Sedunia di Jenewa Mei 2007, International Government Meeting (IGM) WHO di akhirnya menyetujui segala tuntutan Fadilah, yaitu sharing virus disetujui dan GISN dihapuskan.



Perjuangan Ibu Siti Fadilah Supari menghasilkan bauh yang baik pada akhirnya. Ia mampu memaksa WHO berubah. Ia berhasil menghancurkan lingkaran setan pervaksinan dunia. Kini aturan mainnya lebih adil, transparan dan setara.

ADIL artinya negara miskin yang mendapat penyakit flu burung mendapatkan hak atas virus yang dimilikinya. Jika virus itu dibuat vaksin, maka negara korban akan mendapat haknya atas vaksin sesuai aturan.

TRANSPARAN artinya negara yang menderita maupun negara lain mengetahui pasti kemana virus itu perginya, diapakan oleh siapa, dan yakin bahwa virus itu tidak digunakan untik senjata biologis.

SETARA artinya antara pengirim virus dan pembuat vaksin setara, selevel.



Presiden RI, DR. Susilo Bambang Yudhoyono menjuluki Siti Fadilah Supari, Menteri Kesehatan RI sebagai "Menteri Maju Tak Gentar". Ini barangkali buah sukses perjuangan panjang, Siti Fadilah Supari di forum dunia sidang WHO (World Health Organization) , di Jenewa, dalam melawan ketidak-adilan badan kesehatan dunia ini terhadap negara-negara yang sedang berkembang yang umumnya negara miskin yang justru menderita sakit berbagai penyakit antara lain Flu Burung. Sebagai catatan, setiap negara yang terkena penyakit Flu Burung harus menyerahkan seed virus-nya ke WHO, tetapi tanpa diimbangi WHO dengan keterbukaan, kemana virus itu dimanfaatkan. Ujung-ujungnya sudah menjadi vaksin yang ditawar-tawarkan industri farmasi negara maju kepada negara-negara yang terkena Flu Burung yang nota bene negara-negara miskin.



SALUTE AND SUPPORTS FOR Mrs. Siti Fadilah Supari!!!