Thursday, May 14, 2009

Dr. Siti Fadilah Supari (Menteri Kesehatan Indonesia 2004-2009)

Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari (59) bikin gerah World Health Organization (WHO) dan Pemerintah Amerika Serikat (AS). Fadilah berhasil menguak konspirasi AS dan badan kesehatan dunia itu dalam mengembangkan senjata biologi dari virus flu burung, Avian influenza (H5N1). Setelah virus itu menyebar dan menghantui dunia, perusahaan-perusaha an dari negara maju memproduksi vaksin lalu dijual ke pasaran dengan harga mahal di negara berkembang, termasuk Indonesia . Fadilah menuangkannya dalam bukunya berjudul Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung. Selain dalam edisi Bahasa Indonesia, Siti juga meluncurkan buku yang sama dalam versi Bahasa Inggris dengan judul It's Time for the World to Change.

Konspirasi tersebut, kata Fadilah, dilakukan negara adikuasa dengan cara mencari kesempatan dalam kesempitan pada penyebaran virus flu burung. "Saya mengira mereka mencari keuntungan dari penyebaran flu burung dengan menjual vaksin ke negara kita," ujar Fadilah kepada Persda Network di Jakarta , Kamis (21/2). Situs berita Australia , The Age, mengutip buku Fadilah dengan mengatakan, Pemerintah AS dan WHO berkonpirasi mengembangkan senjata biologi dari penyebaran virus avian H5N1 atau flu burung dengan memproduksi senjata biologi. Karena itu pula, bukunya dalam versi bahasa Inggris menuai protes dari petinggi WHO. "Kegerahan itu saya tidak tanggapi. Kalau mereka gerah, monggo mawon. Betul apa nggak, mari kita buktikan. Kita bukan saja dibikin gerah, tetapi juga kelaparan dan kemiskinan. Negara-negara maju menidas kita, lewat WTO, lewat Freeport , dan lain-lain. Coba kalau tidak ada kita sudah kaya," ujarnya.

Fadilah mengatakan, edisi perdana bukunya dicetak masing-masing 1.000eksemplar untuk cetakan bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Total sebanyak 2.000 buku. "Saat ini banyak yang meminta jadi dalam waktu dekat saya akan mencetak cetakan kedua dalam jumlah besar. Kalau cetakan pertama dicetak penerbitan kecil, tapi untuk rencana ini, saya sedang mencari bicarakan dengan penerbitan besar," katanya. Selain mencetak ulang bukunya, perempuan kelahiran Solo, 6 November 1950, mengatakan telah menyiapkan buku jilid kedua.
"Saya sedang menulis jilid kedua. Di dalam buku itu akan saya beberkan semua bagaimana pengalaman saya. Bagaimana saya mengirimkan 58 virus, tetapi saya dikirimkan virus yang sudah berubah dalam bentuk kelontongan. Virus yang saya kirimkan dari Indonesia diubah-ubah Pemerintahan George Bush," ujar menteri kesehatan pertama Indonesia dari kalangan perempuan ini.

Siti enggan berkomentar tentang permintaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang memintanya menarik buku dari peredaran. "Bukunya sudah habis. Yang versi bahasa Indonesia , sebagian, sekitar 500 buku saya bagi-bagikan gratis, sebagian lagi dijual ditoko buku. Yang bahasa Inggris dijual," katanya sembari mengatakan, tidak mungkin lagi menarik buku dari peredaran. [Pemerintah AS dikabarkan menjanjikan imbalan peralatan militer berupa senjata berat atau tank jika Pemerintah RI bersedia menarik buku setebal 182 halaman itu. red] Apapun komentar pemerintah AS dan WHO, Fadilah sudah membikin sejarah dunia.

Gara-gara protesnya terhadap perlakuan diskriminatif soal flu burung, AS dan WHO sampai-sampai mengubah kebijakan fundamentalnya yang sudah dipakai selama 50 tahun. Perlawanan Fadilah dimulai sejak korban tewas flu burung mulai terjadi di Indonesia pada 2005. Majalah The Economist London menempatkan Fadilah sebagai tokoh pendobrak yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak flu burung. "Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata yang terbukti lebih berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam menanggulangi encaman virus flu burung, yaitu transparansi, " tulis The Economist. The Economist, seperti ditulis Asro Kamal Rokan di Republika, edisi pekan lalu, mengurai, Fadilah mulai curiga saat Indonesia juga terkena endemik flu burung 2005 silam.
Ia kelabakan. Obat tamiflu harus ada. Namun aneh, obat tersebut justru diborong negara-negara kaya yang tak terkena kasus flu burung. Di tengah upayanya mencari obat flu burung, dengan alasan penentuan diagnosis, WHO melalui WHO Collaborating Center (WHO CC) di Hongkong memerintahkannya untuk menyerahkan sampel spesimen.

Mulanya, perintah itu diikuti Fadilah. Namun, ia juga meminta laboratorium litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya ternyata sama. Tapi, mengapa WHO CC meminta sampel dikirim ke Hongkong? Fadilah merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban flu burung di Vietnam . Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil dan dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan kemudian dibuat bibit virus. Dari bibit virus inilah dibuat vaksin. Dari sinilah, ia menemukan fakta, pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusaha an besar dari negara maju, negara kaya, yang tak terkena flu burung. Mereka mengambilnya dari Vietnam , negara korban, kemudian menjualnya ke seluruh dunia tanpa izin. Tanpa kompensasi. Fadilah marah. Ia merasa kedaulatan, harga diri, hak, dan martabat negara-negara tak mampu telah dipermainkan atas dalih Global Influenza Surveilance Network (GISN) WHO. Badan ini sangat berkuasa dan telah menjalani praktik selama 50 tahun. Mereka telah memerintahkan lebih dari 110 negara untuk mengirim spesimen virus flu ke GISN tanpa bisa menolak.

Virus itu menjadi milik mereka, dan mereka berhak memprosesnya menjadi vaksin. Di saat keraguan atas WHO, Fadilah kembali menemukan fakta bahwa para ilmuwan tidak dapat mengakses data sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO CC. Data itu, uniknya, disimpan di Los Alamos National Laboratoty di New Mexico , AS. Di sini, dari 15 grup peneliti hanya ada empat orang dari WHO, selebihnya tak diketahui. Los Alamos ternyata berada di bawah Kementerian Energi AS.

Di lab inilah duhulu dirancang bom atom Hiroshima . Lalu untuk apa data itu, untuk vaksin atau senjata kimia? Fadilah tak membiarkan situasi ini. Ia minta WHO membuka data itu. Data DNA virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya dikuasai kelompok tertentu. Ia berusaha keras. Dan, berhasil. Pada 8 Agustus 2006, WHO mengirim data itu. Ilmuwan dunia yang selama ini gagal mendobrak ketertutupan Los Alamos , memujinya. Majalah The Economist menyebut peristiwa ini sebagai revolusi bagi transparansi. Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah terus mengejar WHO CC agar mengembalikan 58 virus asal Indonesia , yang konon telah ditempatkan di Bio Health Security, lembaga penelitian senjata biologi Pentagon.

Ini jelas tak mudah. Tapi, ia terus berjuang hingga tercipta pertukaran virus yang adil,
transparan, dan setara. Ia juga terus melawan dengan cara tidak lagi mau mengirim spesimen virus yang diminta WHO, selama mekanisme itu mengikuti GISN, yang imperialistik dan membahayakan dunia. Dan, perlawanan itu tidak sia-sia. Meski Fadilah dikecam WHO dan dianggap menghambat penelitian, namun pada akhirnya dalam sidang Pertemuan Kesehatan Sedunia di Jenewa Mei 2007, International Government Meeting (IGM) WHO di akhirnya menyetujui segala tuntutan Fadilah, yaitu sharing virus disetujui dan GISN dihapuskan.



Perjuangan Ibu Siti Fadilah Supari menghasilkan bauh yang baik pada akhirnya. Ia mampu memaksa WHO berubah. Ia berhasil menghancurkan lingkaran setan pervaksinan dunia. Kini aturan mainnya lebih adil, transparan dan setara.

ADIL artinya negara miskin yang mendapat penyakit flu burung mendapatkan hak atas virus yang dimilikinya. Jika virus itu dibuat vaksin, maka negara korban akan mendapat haknya atas vaksin sesuai aturan.

TRANSPARAN artinya negara yang menderita maupun negara lain mengetahui pasti kemana virus itu perginya, diapakan oleh siapa, dan yakin bahwa virus itu tidak digunakan untik senjata biologis.

SETARA artinya antara pengirim virus dan pembuat vaksin setara, selevel.



Presiden RI, DR. Susilo Bambang Yudhoyono menjuluki Siti Fadilah Supari, Menteri Kesehatan RI sebagai "Menteri Maju Tak Gentar". Ini barangkali buah sukses perjuangan panjang, Siti Fadilah Supari di forum dunia sidang WHO (World Health Organization) , di Jenewa, dalam melawan ketidak-adilan badan kesehatan dunia ini terhadap negara-negara yang sedang berkembang yang umumnya negara miskin yang justru menderita sakit berbagai penyakit antara lain Flu Burung. Sebagai catatan, setiap negara yang terkena penyakit Flu Burung harus menyerahkan seed virus-nya ke WHO, tetapi tanpa diimbangi WHO dengan keterbukaan, kemana virus itu dimanfaatkan. Ujung-ujungnya sudah menjadi vaksin yang ditawar-tawarkan industri farmasi negara maju kepada negara-negara yang terkena Flu Burung yang nota bene negara-negara miskin.



SALUTE AND SUPPORTS FOR Mrs. Siti Fadilah Supari!!!

Sunday, March 22, 2009

Tohoshinki "Survivor"

Penasaran kenapa temen gua ngebet banget pengen punya CD aslinya nih boyband, akhirnya gua cari tau juga tentang nih boyband. hahaha... yah, dasar gua pemusik juga lah ya jadi gatel pengen tau apa sih yg menariknya dari nih band mpe temen gua segitunya. hahaha... Oke, ini review singkat yg gua dapet tentang boyband bernama Tohoshinki ini:

Tohoshinki adalah nama yang dipakai oleh grup band ini di negeri samurai, Jepang. Berasal dari Korea Selatan dengan nama band asli sebagai Dong Bang Shin Ki, boyband berpersonilkan 5 vokalis dengan umur rata-rata 22 tahun ini terus berkancah di dunia internasional dengan menggunakan acronim TVXQ (Tong Vfang Xien Qi) untuk nama band mereka, dan berhasil menorehkan karir cemerlang di wilayah Asia Timur.

Di tahun 2008, dengan album single Jepang mereka yang ke enam belas, Purple Line, TVXQ berhasil menjadi artis Asia non-Jepang ke lima yg menduduki posisi tangga lagu pertama di Jepang. Pada tahun 2009, dengan TVXQ merilis album mereka yang ke-25, Bolero/ Kiss The Baby Sky/ Wasurenaide, mereka berhasil menjadi artis non Jepang yang memiliki 5 lagu single di posisi pertama tangga lagu Jepang.

Album-album yang telah dirilis oleh boyband yang memulai karir di tahun 2003 dengan melakukan kolaborasi dengan BoA dan Britney Spears ini beberapa di antaranya adalah Three-Angel (2004), Rising Sun (2005), "O".Jung.Ban.Hap (2006), Heart Mind and Soul (2006), T (2008), Miroti (2008), The Secret Code (2009).

Penasaran dg lagu2 boyband ini?? Oke, sekarang gua kasih videoklipnya yg pernah beredar di MTV Asia, berjudulkan Survivor dari album The Secret Code. Selamat menikmati dan semoga review singkat gua sedikit menambah perbendaharaan musik kalian juga :D

-end-

(Read more...)

Tuesday, March 17, 2009

Being Stressed Being With This World

Gw: Sslluuurrrpp! ah.. Eits, ga da tempat sampah. Pegang dulu aja mpe ketemu deh.
Cew1: Nyam3.. Ih, gua ngegendutin siah gara2 jajan gorengan tiap hari. (tapi tetep aja ga brenti ngunyah --")
Cew2: Nyam3.. Iya gitu? Tapi lu mah tetep aja beli tiap hari.

Pluk! Dengan seenaknya aja mereka membuang tuh kantong kertas ke bawah kursi penumpang angkot, sementara gua dari tadi berusaha buat ga buang sampah sembarangan dari sebelum naik tuh angkot.
Melihat ke arah mereka dan memberikan suara batuk sindiran sambil menunjukkan sampah yang gua pegang dari tadi.



Gw: Nyebrang lewat zebra cross ah.. Tapi jalannya lagi rame, tungguin bentar deh di trotoar.
Agkt1: Tin2! (ngasih sinyal bertanya ke gua, udah digelengin kepala tapi teteup aja brenti di zebra cross depan gua tempat gua mo nyebrang --")
Agkt2: Tin2! (ngasih sinyal juga, digelengin kepala juga tapi teteup juga brenti di zebra cross tempat gua mo nyebrang --")
Agkt3: Tin2! (kelakuan sama aja dg angkot sebelumnya!!! X-( )

Jalan memutari tuh angkot demi tetap melintas di atas zebra cross sambil emosi, "TEMPAT NYEBRANG MAS!!!"



Gw: Wuih! Lampu merah. Brenti dulu!
Carry: Karena jalan sangat lengang udah tengah malem, berencana menerobos tapi ga jadi (posisi setengah badan mobil sudah lewat batas garis putih depan)
Volvo: Tii...nn!! (ngasih sinyal ke carry di depannya buat jalan)
Gw: MASIH MERAH PAK!! (dari motor, karena tau tuh jendela sopir Volvo kebuka dikit)

Melihat terus ke arah tuh sopir Volvo yang akhirnya masang muka malu bete sampe lampu ijo nyala sekitar 15 detik setelah gua tegor. Ternyata dari luar Bandung tuh nopolnya. (Volvo tapi kelakuan kok angkot --")

-end-
(Read more...)

Sunday, March 15, 2009

Yakinku Suatu Saat

Kukira aku mengenalmu, ternyata nol besar sedang menantiku di garis kesudahan. Dengan bangga aku berkata dengan orang lain, itu karena aku lebih tahu tentang dia daripada kamu mengenal dia. Tak kusadari kalau keyakinanku itu adalah salah, aku diliputi kebodohan.


Begitu kosongnya tatapan mataku saat kulihat replikaku di cermin, seperti tak berdimensi. Rasa ini baru kualami pertama kali, kau hanya meninggalkan ketiadaan dalam hati ini.


Yang bunga Melati, buatlah aku mengerti, cinta seputih mahkotamu. Adakah kebenaran telah berkata bohong kepadaku? Ataukah kebohongan yang justru berkata jujur kepadaku? Siapa yang harus kupercayai? Sadarkanlah aku!


Kini langit telah berkata, maka karenanya harap tinggallah harapan.


Kutahu, setetes yang telah kulautkan tak berarti bagimu, kuharap suatu saat.
Entah sampai kapan aku akan terus berpendar di lorong kesetiaan ini, kupercaya suatu saat.


Waktu, ya! aku harus mempunyai waktu untuk waktu. Pasti suatu saat!


Kepadamu yang boleh berbicara, beritahukanlah aku bahwa yakinku itu benar adalah benar.



-end-
(Read more...)

Segenggam Salju Untuk Teman

Teman, waktu itu aku menegurmu lebih dulu. Aku yang bertanya terlebih dahulu tentang gambar hidupmu, karena aku buta. Aku tak bisa melihat lukisan kehidupan orang lain, namun aku masih bisa meraba permukaannya.


Kau jawab semua tanyaku waktu itu, namun aku tahu sebagian kecilnya adalah bohong. Aku sadar kalau kau harus menutupi sesuatu dariku, karena kau tak ingin sisi deritamu diketahui orang lain. Sampai kemarin kau berkata teman kepadaku.


Aku hanya seonggok daging yang melapisi tulang, namun aku telah menjual waktuku demi mengangkatmu dari sisi deritamu. Aku telah membeli warna kehidupan yang cerah dengan senyumku, demi lukisan kehidupanmu. Memang aku tidak melihat senyummu, namun aku dengar hatimu melepas nafas lega.


Tetapi teman, hari ini aku tidak lagi mendengar kata kita darimu. Aku tak tahu dunia berkata apa tentang diriku kepadamu hingga kau berkata aku dan kamu.


Sekarang aku hanya berharap ada orang lain yang mau menjual waktunya untukmu. Kutinggalkan kuas dan cat kehidupan ini untukmu, teman.


Kuharap bukan karena aku buta.



-end-
(Read more...)